Buka Raker KONI, Munafri Arifuddin Ingin Olahraga Makassar Naik Kelas: Dari Cetak Atlet hingga Sport Tourism

Pedomanrakyat.com, Makassar – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendorong KONI dan seluruh cabang olahraga tidak hanya berorientasi mencetak atlet berprestasi, tetapi juga menjadikan olahraga sebagai penggerak ekonomi melalui konsep sport tourism.
Hal tersebut disampaikan Munafri saat membuka Rapat Kerja Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar Tahun 2026 di Hotel Novotel Makassar, Sabtu (29/8/2026).
Munafri mengatakan, KONI memiliki posisi penting dalam menentukan wajah olahraga Kota Makassar. Karena itu, ia meminta sistem pengelolaan olahraga dibangun dengan tata kelola yang baik dan berkeadilan.
“Wajah olahraga Kota Makassar ada pada KONI. Sehingga, baik buruknya sistem pengelolaan olahraga muaranya akan ke KONI,” kata Appi sapaan akrab Munafri Arifuddi.
Menurutnya, dukungan pemerintah dan DPRD terhadap olahraga harus mampu diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk mengembangkan potensi atlet Makassar.
Appi menilai Makassar memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet yang tidak hanya berprestasi di tingkat lokal, tetapi mampu menembus level nasional hingga internasional.
“Tidak cukup kita bicara tentang potensi. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana potensi yang besar ini diturunkan menjadi aksi nyata bahwa dari Kota Makassar akan lahir atlet-atlet berprestasi bukan di kelas lokal, tapi kelas nasional maupun kelas internasional,” ujarnya.
Munafri juga menekankan pentingnya prinsip fair play tidak hanya diterapkan dalam pertandingan, tetapi juga dalam tata kelola organisasi dan penggunaan anggaran olahraga.
Ia menuturkan bahwa, distribusi anggaran kepada cabang olahraga tidak harus sama rata, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kepentingan masing-masing cabang olahraga.
“Fair play ini tidak akan pernah kita dapatkan kalau roh dari fair play ini tidak kita masukkan ke dalam sistem tata kelola olahraga Kota Makassar,” tegas Appi
Ia bahkan mengingatkan agar penggunaan anggaran harus sesuai dengan peruntukannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau buat atlet, tulis buat atlet. Kalau buat wasit, taruh buat wasit. Jangan tulis buat wasit, tapi anggarannya ke mana-mana. Lebih konyol lagi kalau masuk ke dalam kantong pribadi,” ucapnya.
Di sisi lain, Munafri melihat olahraga memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar jika dikembangkan secara terintegrasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ia mencontohkan konsep sport tourism yang kini dikembangkan sejumlah kota besar sebagai salah satu cara mendatangkan orang sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
“Perkembangan olahraga hari ini tidak hanya menentukan atau memberikan ruang kepada prestasi olahraga, tapi turunan dari olahraga hari ini bisa memberikan ruang yang lebih besar lagi terhadap bagaimana kota mendapatkan penghasilan yang lebih besar,” jelas Appi.
Ia mengungkapkan, penyelenggaraan berbagai event olahraga dapat menjadi sarana mempromosikan Makassar. Ketika sebuah kota menjadi tuan rumah event olahraga, peserta dan pendukung dari berbagai daerah akan datang dan memberikan dampak terhadap sektor ekonomi.
“Kalau kota sudah terbranding, semua orang akan datang melihat kota itu. Kalau semua orang datang melihat kota itu, mereka akan datang ke kota itu dan tidak mungkin tidak belanja di kota itu,” ujarnya.
Karena itu, ia membuka peluang bagi KONI dan cabang olahraga untuk mengusulkan Makassar sebagai tuan rumah berbagai event olahraga.
“Silakan, mau jadi tuan rumah, bawa ke Makassar. Mau jadi tuan rumah apa, Porprov? Ajukan dan kami pemerintah akan merespons ini dengan baik,” beber Appi.
Munafri menegaskan, pengembangan olahraga harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, KONI, cabang olahraga, atlet dan berbagai pemangku kepentingan.
“Olahraga tidak hanya berdiri dalam satu olahraga, tapi hari ini olahraga bagian dari tourism. Ini yang selalu saya perjuangkan,” pungkasnya.