Kenakan Baju Adat Kajang, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Puji Penjaga Hutan dari Bulukumba

Kenakan Baju Adat Kajang, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Puji Penjaga Hutan dari Bulukumba

Pedomanrakyat.com, Jakarta – Ada pemandangan berbeda saat Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni menghadiri upacara penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026) sore.

Terlihat, Raja Juli Antoni bersama istrinya mengenakan pakaian adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dalam upacara penurunan bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pilihan pakaian adat tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Nusantara. Raja Juli juga ingin menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat Kajang yang selama ini dikenal menjaga hutan dengan kearifan lokal.

“Pada Upacara Penurunan Bendera Merah Putih sore ini di Istana Merdeka, saya dan istri mengenakan pakaian adat Kajang, Sulawesi Selatan,” kata Raja Juli.

Menurutnya, masyarakat adat Kajang memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan, khususnya hutan tropis Indonesia.

“Bagi saya, masyarakat adat Kajang adalah salah satu the best guardians of our tropical forest,” kata Raja Juli.

Raja Juli menilai, masyarakat adat Kajang telah menjaga hutan secara turun-temurun dengan berpegang pada kearifan lokal dan prinsip hidup yang selaras dengan alam.

Nilai tersebut, kata dia, menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat adat memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan hutan Indonesia.

“Dari generasi ke generasi, mereka menjaga hutan dengan kearifan dan prinsip hidup sederhana yang selaras dengan alam,” tuturnya.

Di momentum Hari Kemerdekaan, Raja Juli juga menyampaikan penghormatan kepada masyarakat adat di berbagai daerah yang selama ini ikut menjaga hutan Indonesia.

“Di hari kemerdekaan ini, penghormatan juga layak diberikan kepada masyarakat adat di seluruh Nusantara yang terus menjaga hutan Indonesia,” ujarnya.

Pakaian adat Kajang yang dikenakan Raja Juli dan istrinya pun menjadi simbol penghargaan terhadap masyarakat adat sekaligus pesan bahwa pelestarian hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari warisan pengetahuan dan kearifan masyarakat yang telah dijaga lintas generasi.

Berita Terkait
Baca Juga