Pangkep Masuk Musim Hujan November-Desember, BMKG Ungkap Ancaman El Nino

Pangkep Masuk Musim Hujan November-Desember, BMKG Ungkap Ancaman El Nino

Pedomanrakyat.com, Pangkep– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di Sulawesi Selatan mulai berlangsung secara bertahap pada November-Desember 2026. Namun, fenomena El Nino berpotensi menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Pangkep, lebih rendah dari kondisi normal.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengatakan pengaruh El Nino tidak berarti wilayah Pangkep tidak akan diguyur hujan. Dampaknya lebih kepada berkurangnya jumlah curah hujan yang diterima.

“Kalau wilayah Pangkep, secara klimatologi memiliki dua puncak hujan, yakni Desember-Januari dan April-Mei,” kata Nasrol dalam press release Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, pengaruh El Nino menyebabkan adanya pengurangan curah hujan, termasuk pada September dan Oktober. Kondisi tersebut bukan berarti hujan tidak turun, tetapi jumlahnya lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

“Karena pengaruh El Nino, ada pengurangan curah hujan di bulan Oktober dan juga September ini. Bukan berarti tidak ada hujan, tapi ada pengurangan jumlah curah hujan. Kita akan menjumpainya pada Desember,” ujarnya.

Nasrol menjelaskan, secara umum musim hujan di Sulsel tetap berlangsung pada November-Desember, meski pada beberapa wilayah terjadi kemunduran awal musim hujan akibat peningkatan pengaruh El Nino.

Ia mencontohkan, wilayah yang dalam kondisi normal menerima curah hujan sekitar 50 milimeter dapat mengalami penurunan menjadi sekitar 30 milimeter. Sementara wilayah yang biasanya menerima 30 milimeter dapat turun menjadi 20 milimeter atau lebih rendah.

“Fungsi El Nino itu ada pada pengurangan daripada curah hujannya,” jelasnya.

Menurut Nasrol, informasi prakiraan musim hujan tidak hanya disiapkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Informasi tersebut juga penting menjadi dasar perencanaan pembangunan di berbagai sektor.

“Informasi prakiraan musim hujan ini bukan hanya untuk kesiapsiagaan terhadap bencana, tetapi juga untuk pembangunan, baik bidang kesehatan, infrastruktur, pertanian, kehutanan dan lainnya,” katanya.

Khusus menghadapi potensi periode kering yang lebih panjang akibat El Nino, Nasrol mendorong adanya langkah antisipasi melalui pengelolaan dan penampungan air.

Ia menyebut pembangunan waduk dan bendung menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menampung air saat curah hujan masih tersedia, sehingga dapat dimanfaatkan ketika memasuki periode kering.

“Elnino saat ini siklusnya agak memendek. Tiga tahun basah, satu tahun atau enam bulan kering. Bagaimana dalam tiga tahun ini kita bisa menampung air hujan melalui pembangunan waduk, embung, bendungan untuk bisa kita menghadapi kekeringan enam sampai tujuh bulan,” ujarnya.

Nasrol menambahkan, karakteristik curah hujan Pangkep dipengaruhi sejumlah faktor klimatologi. Kondisi tersebut membuat pola hujan di wilayah Pangkep memiliki karakter tersendiri dengan dua periode puncak hujan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan informasi prakiraan musim tersebut sebagai dasar dalam menyusun langkah antisipasi dan perencanaan kegiatan sesuai kondisi cuaca dan iklim.

Berita Terkait
Baca Juga