Produksi Capai 623 Ribu Ton, Pangkep Matangkan Pengembangan Ekosistem Rumput Laut

Pedomanrakyat.com, Pangkep- Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mematangkan Rencana Aksi Strategis Wilayah Akselerator Pembangunan Wilayah Indonesia Timur untuk pengembangan ekosistem rumput laut di Kabupaten Pangkep.
Pembahasan tersebut dilakukan melalui validasi rencana aksi yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 3 Kantor Bupati Pangkep, Selasa (22/9/2026).
Pangkep menjadi salah satu lokasi pilot project pengembangan rumput laut berbasis inovasi.
Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan rencana aksi yang telah disusun dapat menjawab berbagai persoalan pengembangan rumput laut, mulai dari penyediaan bibit, penguatan kelembagaan petani, sarana pascapanen hingga pengolahan hasil produksi.
Kepala Bapperida Pangkep, Amril, mengatakan proses validasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Selain Focus Group Discussion (FGD), tim juga melakukan peninjauan langsung ke lokus pengembangan rumput laut di Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, dan Desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang.
“Memvalidasi kembali kepada stakeholder, mencocokkan mungkin ada masukan terkait rencana aksi strategis yang sudah disusun, sehingga menghasilkan draft final atau referensi untuk pelaksanaan program selanjutnya,” kata Amril.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan ekosistem rumput laut di Pangkep. Salah satunya adalah ketersediaan bibit. Saat ini, sebagian petani masih memperoleh bibit dari luar daerah.
Penguatan kelembagaan petani juga dinilai penting agar petani memiliki wadah untuk berhimpun, meningkatkan kapasitas, sekaligus memperkuat pengembangan usaha rumput laut.
Selain persoalan di hulu, perhatian juga diarahkan pada tahapan pascapanen, khususnya proses pengeringan. Produksi yang cukup besar membutuhkan dukungan tempat dan peralatan pengeringan yang memadai, terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung.
“Pengeringan setelah dipanen, apalagi produksinya banyak, butuh wadah untuk mengeringkan. Butuh dukungan, mudah-mudahan program ini memfasilitasi bantuan peralatan yang lebih modern, misalnya mesin pengering untuk memudahkan petani kita, terutama saat cuaca yang tidak bersahabat,” jelasnya.
Amril berharap rencana aksi tersebut dapat mendorong intervensi secara menyeluruh dari sektor hulu hingga hilir. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada penyediaan bibit dan sarana produksi, tetapi juga pengolahan hasil rumput laut di Pangkep.
Dengan demikian, rumput laut yang dihasilkan petani tidak seluruhnya dikirim dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah, tetapi dapat diolah di Pangkep sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
“Mudah-mudahan selain bahan baku yang dikeringkan, ada juga industri yang mengolah di Pangkep. Tidak lagi kita mengirim bahan mentah ke luar, tapi sudah bisa diolah di Pangkep, jadi ada nilai tambah lagi,” pungkasnya.
Dalam pembahasan tersebut, produksi rumput laut Kabupaten Pangkep pada 2025 disebut mencapai 623.316 ton. Potensi produksi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan ekosistem rumput laut yang lebih terintegrasi di Pangkep.