Siti Suwadah Rimang: Di Tengah Dunia yang Sibuk Scroll, Buku Masih Menyelamatkan Jiwa

Siti Suwadah Rimang: Di Tengah Dunia yang Sibuk Scroll, Buku Masih Menyelamatkan Jiwa

Pedomanrakyat.com, Makassar – Setiap hari, jari-jari manusia semakin akrab dengan layar. Pagi dibuka dengan notifikasi. Siang dipenuhi video singkat.

Malam ditutup dengan scroll tanpa akhir. Kita hidup di zaman yang bergerak begitu cepat. Informasi datang seperti hujan deras.

Semua ingin berbicara. Semua ingin dilihat. Semua ingin viral. Namun di tengah dunia yang sibuk menggulir layar, ada satu hal yang perlahan mulai ditinggalkan: membaca dengan tenang.

Hari demi hari, manusia semakin sulit duduk diam bersama buku. Padahal, justru di sanalah jiwa sering menemukan dirinya kembali. Buku memang tidak berbunyi seperti notifikasi.
Ia tidak berkedip meminta perhatian. Ia tidak memaksa untuk dibuka.

Namun diam-diam, buku menyelamatkan banyak hati yang hampir tenggelam oleh hiruk pikuk dunia.

Di Hari Buku Nasional ini, kita seperti diingatkan kembali bahwa kemajuan teknologi tidak  seharusnya membuat manusia kehilangan kedalaman berpikir. Sebab manusia bukan hanya membutuhkan hiburan, tetapi juga membutuhkan makna. Dan sering kali, makna itu ditemukan di antara halaman-halaman buku.

Buku adalah ruang sunyi yang mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak. Berhenti dari kebisingan. Berhenti dari perbandingan hidup. Berhenti dari rasa ingin selalu terlihat sempurna. Ketika seseorang membaca buku, sebenarnya ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Ia sedang membangun percakapan batin yang mungkin selama ini tidak pernah sempat ia dengar karena terlalu sibuk mengejar dunia luar. Tidak semua luka membutuhkan keramaian untuk sembuh. Kadang, satu paragraf sederhana dalam buku mampu memeluk seseorang lebih dalam daripada seribu nasihat.

Ada orang yang menemukan keberanian setelah membaca sebuah buku. Ada yang  enemukan harapan setelah hidupnya terasa gelap. Ada yang kembali percaya pada dirinya sendiri setelah membaca kisah perjuangan orang lain. Itulah mengapa buku tidak pernah benar-benar mati.

Karena manusia akan selalu membutuhkan tempat pulang bagi pikirannya. Hari ini kita hidup di zaman yang membuat banyak orang cepat mengetahui sesuatu, tetapi lambat memahami makna. Kita mengenal banyak informasi, tetapi sering kehilangan kebijaksanaan. Kita mudah terhubung dengan siapa saja, tetapi sulit mengenal diri sendiri. Dan buku hadir untuk mengisi ruang yang kosong itu.

Membaca bukan hanya soal menambah pengetahuan. Membaca adalah cara manusia memperluas hati dan cara pandangnya terhadap kehidupan.

Orang yang gemar membaca biasanya tidak mudah menghakimi. Karena buku mengajarkan bahwa hidup manusia penuh cerita yang tidak sederhana. Buku membuat seseorang belajar memahami rasa sakit, perjuangan, kehilangan, harapan, bahkan kemanusiaan. Dari membaca, seseorang belajar bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Di era serba cepat ini, buku justru mengajarkan sesuatu yang mulai langka: kesabaran.

Membaca melatih manusia untuk bertahan pada proses. Tidak semua hal harus instan.

Tidak semua jawaban hadir dalam satu detik. Buku mengajarkan bahwa pemikiran besar lahir dari perjalanan panjang.

Ironisnya, di tengah kemudahan teknologi, minat membaca justru sering dianggap tidak penting. Banyak orang merasa cukup hanya dengan melihat potongan informasi singkat. Padahal kehidupan tidak bisa dipahami hanya melalui cuplikan-cuplikan pendek. Karena hidup terlalu luas untuk dijelaskan dalam beberapa detik saja.

Buku mengajak manusia masuk lebih dalam. Masuk ke ruang refleksi. Masuk ke ruang perenungan.

Masuk ke ruang tempat manusia belajar menjadi lebih bijaksana. Mungkin itulah sebabnya orang-orang besar sangat dekat dengan buku. Buku bukan hanya kumpulan kertas berisi tulisan. Ia adalah warisan pemikiran. Ia adalah jejak perjalanan manusia. Ia adalah rumah bagi gagasan-gagasan yang ingin hidup lebih lama.

Lewat buku, seseorang bisa berbicara bahkan setelah ia tiada. Lewat buku, pengalaman hidup dapat diwariskan lintas generasi.

Dan bukankah itu luar biasa? Di Hari Buku Nasional ini, kita tidak hanya sedang merayakan buku sebagai benda. Kita sedang merayakan  engetahuan, pemikiran, dan kesadaran manusia untuk terus belajar. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang masyarakatnya masih mau membaca dan berpikir.

Kita tentu tidak anti teknologi. Dunia digital membawa banyak manfaat. Informasi menjadi mudah diakses.

Pengetahuan tersebar lebih cepat. Banyak karya dapat lahir dan dikenal luas melalui media sosial. Namun ada hal yang perlu dijaga: jangan sampai manusia kehilangan kemampuan untuk merenung. Karena dunia yang terlalu bising bisa membuat manusia lupa mendengarkan dirinya sendiri. Dan buku membantu kita menemukan kembali suara itu.

Buku tidak terburu-buru. Ia tidak menekan kita untuk segera selesai. Ia memberi ruang untuk berpikir, membayangkan, dan memahami.

Saat membaca buku, manusia belajar hadir sepenuhnya. Tidak meloncat-loncat. Tidak terbagi oleh puluhan notifikasi. Mungkin itulah alasan mengapa membaca terasa begitu menenangkan. Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, banyak orang sebenarnya tidak hanya lelah secara fisik. Mereka lelah secara batin. Pikiran mereka penuh. Hati mereka sesak. Hidup terasa berjalan cepat tanpa arah yang jelas.

Dan tanpa disadari, buku sering menjadi tempat istirahat bagi jiwa yang kelelahan. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika seseorang tenggelam dalam bacaan yang baik. Seolah dunia melambat sejenak dan hati diberi kesempatan untuk bernapas lebih panjang. Buku juga mengingatkan manusia bahwa dirinya tidak sendiri.

Saat membaca kisah orang lain, kita sadar bahwa banyak orang pernah jatuh, gagal, terluka, bahkan hampir menyerah. Namun mereka tetap bertahan. Dari sanalah harapan tumbuh. Kadang manusia tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Ia hanya perlu tahu bahwa masih ada alasan untuk melanjutkan hidup.

Dan anehnya, alasan itu kadang ditemukan dari sebuah buku sederhana. Hari Buku Nasional seharusnya bukan hanya menjadi perayaan seremonial.

Ia harus menjadi pengingat bahwa budaya membaca perlu terus dirawat. Sebab tanpa membaca, manusia akan mudah  dipengaruhi tanpa sempat berpikir. Masyarakat yang malas membaca akan mudah percaya pada apa saja. Mudah terprovokasi. Mudah dipecah. Mudah diarahkan tanpa kesadaran.

Sedangkan membaca melatih manusia untuk berpikir lebih dalam sebelum mengambil kesimpulan. Itulah kekuatan buku yang sebenarnya. Buku bukan sekadar hiburan.

Ia adalah alat pembebasan pikiran. Di banyak tempat, perubahan besar selalu dimulai dari pemikiran. Dan pemikiran lahir dari kebiasaan membaca. Karena itu, mencintai buku sebenarnya adalah bentuk mencintai masa depan.

Anak-anak yang tumbuh dekat dengan buku biasanya memiliki imajinasi yang lebih hidup. Mereka belajar bermimpi lebih besar. Mereka belajar memahami dunia dengan cara yang lebih luas.

Begitu pula orang dewasa. Membaca menjaga pikiran tetap tumbuh meski usia terus bertambah. Sebab manusia yang berhenti membaca perlahan akan berhenti berkembang.

Hari ini mungkin banyak orang merasa tidak punya waktu membaca. Padahal sering kali  masalahnya bukan tidak punya waktu, tetapi terlalu terbiasa memberi waktu pada hal-hal yang menghabiskan perhatian tanpa memberi kedalaman.

Berjam-jam bisa habis hanya untuk melihat hidup orang lain di media sosial. Namun beberapa menit membaca terasa begitu berat.

Padahal satu buku bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

Satu buku bisa melahirkan keberanian baru.
Satu buku bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.
Satu buku bisa membuat manusia menemukan arah hidupnya kembali.

Karena itulah buku selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah peradaban manusia.

Bayangkan jika para pemikir, ilmuwan, sastrawan, dan pejuang tidak meninggalkan tulisan. Mungkin dunia tidak akan berkembang sejauh hari ini.

Tulisan membuat ilmu tetap hidup.
Tulisan membuat pengalaman tidak hilang begitu saja.

Dan buku adalah salah satu bentuk cinta manusia terhadap pengetahuan.

Di Hari Buku Nasional ini, mari kembali mendekat pada buku.
Tidak perlu langsung membaca banyak.
Mulailah perlahan.

Satu halaman.
Satu bab.
Satu buku.

Karena kebiasaan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Bacalah bukan untuk terlihat pintar, tetapi untuk memperkaya hati dan pikiran. Bacalah agar kita tidak mudah kehilangan arah di tengah dunia yang semakin ramai.

Dan bagi para penulis, teruslah menulis.

Mungkin tulisanmu tidak langsung viral.
Mungkin bukumu tidak langsung dikenal banyak orang.

Namun percayalah, tulisan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca.

Karena setiap buku memiliki takdirnya masing-masing.

Ada buku yang menghibur.
Ada buku yang menyadarkan.
Ada buku yang menyembuhkan.

Dan mungkin, tanpa pernah kita sadari, tulisan sederhana yang kita buat hari ini akan menjadi cahaya bagi seseorang di masa depan.

Bukankah itu indah?

Di tengah dunia yang sibuk scroll, masih ada orang-orang yang memilih duduk tenang bersama buku. Mereka mungkin terlihat diam, tetapi sebenarnya sedang membangun dunia di dalam pikirannya.

Dan dunia selalu berubah melalui orang-orang yang mau berpikir.

Hari Buku Nasional bukan hanya tentang membaca buku.
Ia adalah tentang menjaga manusia tetap manusia.

Tetap berpikir.
Tetap merasa.
Tetap memiliki empati.
Tetap memiliki kedalaman jiwa.

Karena tanpa itu, manusia mungkin akan terlihat modern… tetapi kehilangan arah hidupnya.

Maka mari merawat budaya membaca.
Mari mendekatkan buku kepada anak-anak.
Mari menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.

Sebab buku tidak hanya memberi ilmu.
Buku membantu manusia memahami kehidupan dengan lebih bijaksana.

Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mungkin buku adalah salah satu tempat terakhir di mana jiwa manusia masih bisa beristirahat dengan tenang.

Penulis : Siti Suwadah Rimang (Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar)

Baca Juga