Sumpah Pemuda 5.0: Selamatkan Nalar Generasi Muda Dari Brain Rot di Tengah Tsunami Ai

Sumpah Pemuda 5.0: Selamatkan Nalar Generasi Muda Dari Brain Rot di Tengah Tsunami Ai

Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemuda Merdeka Bukan Sekadar Pemuda yang Terkoneksi
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia membuktikan bahwa perbedaan suku, daerah, agama, dan latar belakang bukanlah penghalang untuk membangun persatuan. Mereka menyatukan tekad dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam sejarah kebangsaan sekaligus bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kesadaran intelektual dan keberanian generasi muda.
Hari ini, kita hidup dalam dunia yang memungkinkan seseorang mengakses ribuan informasi hanya melalui satu layar. Teknologi AI bahkan dapat membantu menyusun tulisan, menjawab pertanyaan, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, dan menghasilkan berbagai gagasan dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemajuan teknologi selalu berjalan seiring dengan kemajuan kualitas berpikir manusia?
Kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam anggapan bahwa semakin canggih perangkat yang digunakan, semakin tinggi pula kualitas intelektual penggunanya. Seseorang bisa sangat terampil mengoperasikan teknologi, tetapi belum tentu mampu menilai kebenaran informasi, menyusun argumentasi, memahami persoalan secara mendalam, atau mengambil keputusan secara bijaksana.
Di sinilah relevansi gagasan brain rot menjadi penting. Oxford University Press menetapkan istilah tersebut sebagai Word of the Year 2024. Istilah ini merujuk pada persepsi tentang penurunan kualitas intelektual atau kemampuan berpikir kritis yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan atas konten yang dangkal atau tidak menantang secara intelektual (Oxford University Press, 2024).
Tentu saja, brain rot merupakan istilah populer, bukan diagnosis medis yang membuktikan bahwa otak seseorang mengalami kerusakan akibat menggunakan media sosial. Namun, istilah tersebut dapat menjadi alarm budaya untuk mengevaluasi kebiasaan digital kita. Dalam momentum Sumpah Pemuda 5.0, persoalannya bukan apakah generasi muda boleh menggunakan teknologi. Persoalan sesungguhnya ialah apakah generasi muda mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan daya nalar, karakter, empati, dan tanggung jawab kebangsaannya.

Brain Rot: Ketika Jari Lebih Aktif daripada Pikiran
Salah satu tantangan budaya digital ialah kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat, berulang, dan terus-menerus. Kita berpindah dari satu video pendek ke video berikutnya, dari satu unggahan ke unggahan lain, sering kali tanpa memberikan waktu yang cukup untuk memahami, mempertanyakan, atau merefleksikan apa yang dilihat.
Masalahnya bukan terletak pada video pendek atau hiburan digital itu sendiri. Keduanya dapat menjadi sarana belajar, kreativitas, dan rekreasi. Persoalan muncul ketika konsumsi konten yang dangkal menjadi kebiasaan dominan hingga menggeser aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, pembacaan mendalam, dialog, dan pemikiran reflektif.
Dalam situasi seperti ini, mahasiswa berisiko menjadi kaya informasi, tetapi miskin pemahaman; cepat memberikan komentar, tetapi lambat melakukan analisis; mudah membagikan informasi, tetapi belum tentu memeriksa kebenarannya.
Kita perlu membedakan antara mengetahui dan memahami. Mengetahui berarti memperoleh informasi tentang sesuatu, sedangkan memahami menuntut kemampuan menghubungkan informasi, menilai bukti, mengenali konteks, dan menarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa, misalnya, dapat membaca ringkasan sebuah buku dalam beberapa menit. Ringkasan itu berguna sebagai pintu masuk. Akan tetapi, apabila ringkasan selalu menggantikan kegiatan membaca, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengikuti alur argumentasi penulis, menemukan kontradiksi, dan membangun interpretasi sendiri.
Demikian pula, mahasiswa dapat menemukan jawaban melalui mesin pencari atau AI. Namun, jawaban yang cepat belum tentu benar, relevan, lengkap, atau sesuai dengan konteks persoalan. Tanpa kemampuan mengevaluasi, kemudahan akses justru dapat menumbuhkan ketergantungan. Karena itu, menyelamatkan pemuda dari brain rot bukan berarti memusuhi hiburan atau teknologi. Yang perlu diperjuangkan adalah keseimbangan antara konsumsi dan produksi pengetahuan, antara kecepatan dan kedalaman, serta antara kenyamanan digital dan disiplin intelektual.

Tsunami AI: Ancaman atau Peluang bagi Generasi Muda?
Kehadiran AI generatif membawa perubahan besar dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk mencari ide awal, memahami konsep yang sulit, memperoleh umpan balik atas tulisan, menyusun pertanyaan penelitian, atau membandingkan berbagai perspektif. Jika digunakan secara tepat, AI dapat memperluas kesempatan belajar dan membantu mahasiswa bekerja lebih efisien.
Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. OECD dalam Digital Education Outlook 2026 menegaskan bahwa penggunaan AI generatif tanpa arahan pedagogis yang jelas dapat meningkatkan kualitas hasil tugas tanpa selalu menghasilkan peningkatan pembelajaran yang sepadan. Sebaliknya, penggunaan yang dirancang dengan tujuan pendidikan yang tepat berpotensi mendukung proses belajar dan pengembangan keterampilan (OECD, 2026). Temuan ini mengingatkan kita bahwa hasil yang tampak baik belum tentu mencerminkan proses belajar yang baik. Sebuah esai dapat tersusun rapi dengan bantuan AI, tetapi apakah mahasiswa memahami argumentasinya? Sebuah presentasi dapat terlihat meyakinkan, tetapi apakah penyajinya mampu menjawab pertanyaan kritis? Sebuah proposal dapat tampak ilmiah, tetapi apakah penulisnya telah memeriksa data dan referensi yang digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pendidikan tinggi bukan sekadar proses menghasilkan tugas. Pendidikan tinggi adalah proses membangun manusia yang mampu berpikir mandiri, mengambil keputusan berdasarkan bukti, menghargai perbedaan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang digunakannya. UNESCO juga menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan AI untuk pendidikan dan penelitian. Perlindungan privasi, pertimbangan etis, kesiapan pengguna, dan tujuan pembelajaran harus menjadi bagian dari penerapan teknologi tersebut (Miao & Holmes, 2023).
Dengan demikian, AI tidak perlu ditempatkan sebagai musuh generasi muda. AI dapat menjadi mitra belajar, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia untuk berpikir, menilai, dan mengambil keputusan. Prinsipnya sederhana: gunakan AI untuk memperluas pertanyaan, bukan untuk menghentikan rasa ingin tahu; gunakan AI untuk menguji gagasan, bukan untuk menghindari proses berpikir; dan gunakan AI untuk memperkuat karya, bukan untuk menyamarkan ketidaktahuan.

Kedaulatan Berpikir: Kemerdekaan Baru yang Harus Diperjuangkan
Kemerdekaan bangsa tidak hanya berkaitan dengan kebebasan dari kekuasaan asing. Kemerdekaan juga memerlukan kemampuan menentukan sikap, menilai keadaan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dalam konteks digital, kedaulatan berpikir berarti kemampuan seseorang untuk tidak menerima begitu saja apa yang disajikan oleh layar, algoritma, influencer, maupun sistem AI. Seseorang yang berdaulat dalam berpikir berani bertanya, memeriksa bukti, mempertimbangkan alternatif, dan mengakui ketika dirinya belum mengetahui jawaban.
Kedaulatan berpikir juga berarti tidak menyerahkan seluruh penilaian moral kepada teknologi. AI dapat menghasilkan rekomendasi, tetapi manusia tetap harus mempertimbangkan dampak sosial, nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab atas keputusan yang diambil. Literasi media dan informasi menjadi bekal penting untuk mewujudkan kemampuan tersebut. UNESCO melalui kurikulum literasi media dan informasi mendorong masyarakat agar mampu mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis serta bertanggung jawab di tengah perubahan ekosistem komunikasi, termasuk perkembangan AI dan penyebaran misinformasi (Grizzle et al., 2021).
Bagi mahasiswa, kedaulatan berpikir dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Jangan langsung percaya pada informasi yang viral. Periksa sumbernya. Bandingkan dengan sumber lain yang kredibel. Bedakan fakta dari opini. Perhatikan konteks sebuah pernyataan. Jangan menganggap jawaban yang terdengar meyakinkan sebagai kebenaran yang sudah teruji.
Mahasiswa juga perlu mempertahankan ruang untuk membaca buku, berdiskusi secara langsung, menulis dengan pemikiran sendiri, dan menyelesaikan persoalan tanpa selalu meminta jawaban instan dari perangkat digital. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan. Justru di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan jawaban, kemampuan manusia untuk merumuskan pertanyaan yang bermakna, mengevaluasi jawaban, dan memahami konteks menjadi semakin penting.

Sumpah Pemuda 5.0: Dari Persatuan Nasional Menuju Gerakan Intelektual
Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran bahwa perbedaan harus diikat oleh cita-cita bersama. Dalam konteks sekarang, semangat itu dapat diterjemahkan menjadi gerakan intelektual yang memperkuat kualitas manusia Indonesia di tengah perubahan teknologi.
Sumpah Pemuda 5.0 bukan pengganti atau rumusan resmi baru bagi Sumpah Pemuda 1928. Istilah ini dapat digunakan sebagai kerangka refleksi untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan dalam menghadapi tantangan masyarakat digital. Pertama, semangat satu tanah air dapat diwujudkan melalui komitmen menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitar. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi konsumen tren digital. Mereka perlu menjadi pencipta solusi, mulai dari pendidikan, lingkungan, kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, hingga pelestarian budaya lokal.
Kedua, semangat satu bangsa dapat diwujudkan melalui tanggung jawab menjaga ruang digital dari hoaks, ujaran kebencian, perundungan, dan provokasi yang merusak persatuan. Mahasiswa perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama etika, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesediaan berdialog. Ketiga, semangat menjunjung bahasa persatuan dapat diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia yang kritis, santun, jelas, dan bertanggung jawab. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, melainkan juga sarana membangun pengetahuan, menegosiasikan makna, serta merawat hubungan sosial. Di ruang digital, pilihan kata dapat memperkuat persaudaraan, tetapi juga dapat memperbesar konflik.
Dalam perspektif kebahasaan dan pragmatik, sebuah ujaran tidak hanya dinilai dari susunan katanya, tetapi juga dari maksud, konteks, dampak, dan hubungannya dengan orang lain. Karena itu, kecakapan digital seharusnya mencakup kemampuan memahami konteks komunikasi, memeriksa implikasi sebuah pernyataan, dan memilih bahasa yang tidak merendahkan martabat orang lain.
Semangat kebangsaan pada era AI akhirnya tidak cukup diukur dari seberapa sering kita mengunggah slogan nasionalisme. Ia harus terlihat dalam kualitas pengetahuan yang kita hasilkan, kejujuran akademik yang kita pertahankan, cara kita memperlakukan sesama, dan kontribusi nyata yang kita berikan kepada masyarakat.

Lima Gerakan Nyata untuk Menyelamatkan Nalar Pemuda
Seruan menyelamatkan generasi muda dari brain rot akan kehilangan makna jika berhenti sebagai slogan. Mahasiswa membutuhkan kebiasaan yang dapat dilakukan secara konsisten.
Pertama, membangun disiplin digital. Tetapkan waktu khusus untuk belajar tanpa gangguan notifikasi. Kurangi kebiasaan membuka aplikasi secara otomatis ketika sedang membaca atau mengerjakan tugas. Evaluasi penggunaan waktu digital tanpa harus menganggap seluruh aktivitas daring sebagai sesuatu yang buruk.
Kedua, menghidupkan kembali budaya membaca mendalam. Luangkan waktu membaca buku, artikel ilmiah, dan sumber tepercaya. Setelah membaca, tuliskan gagasan utama, bukti pendukung, pertanyaan kritis, dan pendapat pribadi. Dengan demikian, membaca tidak berhenti pada kegiatan melihat kata, tetapi menjadi proses membangun pemahaman.
Ketiga, menggunakan AI secara kritis dan transparan. Gunakan AI untuk berdiskusi, menguji argumentasi, mencari sudut pandang alternatif, atau memperbaiki struktur tulisan. Verifikasi klaim dan referensi yang dihasilkannya. Patuhi ketentuan akademik mengenai penggunaan AI dan jelaskan kontribusinya apabila diwajibkan. Mahasiswa harus tetap menjadi penanggung jawab atas isi karya yang diserahkan.
Keempat, mengembangkan ruang dialog dan kolaborasi. Bentuk kelompok diskusi, komunitas baca, forum debat berbasis bukti, dan proyek sosial berbantuan teknologi. Diskusi langsung melatih kemampuan mendengar, menyampaikan alasan, memahami perbedaan, dan merevisi pendapat ketika menemukan bukti yang lebih kuat.
Kelima, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa. Gunakan teknologi untuk membuat konten edukatif, mendokumentasikan bahasa dan budaya lokal, mengembangkan solusi bagi persoalan masyarakat, serta memperluas akses terhadap pengetahuan. Generasi muda harus bergerak dari sekadar penonton menjadi pencipta, dari konsumen informasi menjadi produsen pengetahuan.
Lima gerakan ini dapat dikembangkan oleh organisasi mahasiswa dan komunitas kampus menjadi program berkelanjutan. Keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah unggahan atau peserta kegiatan, tetapi juga dari perubahan kebiasaan membaca, kualitas diskusi, kemampuan memeriksa informasi, integritas akademik, dan manfaat karya yang dihasilkan.
Di tengah tsunami AI, kita tidak sedang diminta memilih antara manusia dan teknologi. Kita sedang ditantang untuk memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan. Kita tidak perlu takut pada AI, tetapi kita harus waspada terhadap kebiasaan yang membuat kita berhenti bertanya, malas memeriksa, enggan membaca, dan kehilangan keberanian untuk berpikir sendiri.
Bagi mahasiswa dan generasi muda Indonesia pada umumnya, momentum Sumpah Pemuda 5.0 seharusnya menjadi panggilan untuk bergerak. Mari membangun budaya digital yang sehat, menghidupkan tradisi intelektual, menjaga etika komunikasi, serta memanfaatkan AI untuk memperkuat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Pemuda yang dibutuhkan bangsa bukan sekadar pemuda yang paling cepat memperoleh jawaban, melainkan pemuda yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, membedakan fakta dari manipulasi, menghormati perbedaan, dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat.
Jangan biarkan jari kita lebih cepat daripada pikiran. Jangan biarkan algoritma menentukan seluruh perhatian kita. Jangan biarkan AI menggantikan tanggung jawab kita untuk belajar dan bertumbuh. Mari kita teguhkan semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk perjuangan baru: merdeka dalam berpikir, berintegritas dalam berkarya, bijak dalam berteknologi, dan bersatu dalam membangun Indonesia. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Saatnya pemuda bangkit, nalar terjaga, karakter berdaya, dan Indonesia berjaya.

Dr. Siti Suwadah Rimang, S.Pd., M.Hum.
Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar

Berita Terkait
Baca Juga