Appi di Tengah Isu Hengkang dari Golkar, Pengamat: Beliau Sudah Miliki Muatan politik Jauh Lebih Besar

Muh Saddam
Muh Saddam

Senin, 21 September 2026 16:23

Diskusi politik bertajuk “Appi: Hengkang atau Bertahan”.
Diskusi politik bertajuk “Appi: Hengkang atau Bertahan”.

Pedomanrakyat.com, Makassar – Masa depan politik Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi, dibahas dalam diskusi politik bertajuk “Appi: Hengkang atau Bertahan” yang berlangsung di Graha Pena, Makassar, Senin (21/9/2026).

Diskusi itu membahas kemungkinan langkah politik Appi setelah Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sulsel menetapkan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) terpilih sebagai Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan secara aklamasi.

Sebelumnya, Appi yang juga Ketua DPD II Golkar Makassar masuk dalam bursa calon Ketua Golkar Sulsel. Namun diakhir tidak melanjutkan pencalonannya.

Direktur Profetik Institute sekaligus pengamat politik Asratillah mengatakan berakhirnya Musda Golkar Sulsel tidak otomatis mengakhiri dinamika politik di internal partai.

“Berakhirnya Musda dan terpilihnya Pak IAS tidak serta-merta akan mengakhiri dinamika politik di internal Golkar, khususnya di Sulsel,” kata Asratillah dalam diskusi tersebut.

Menurut Asratillah, dinamika menuju Musda sebelumnya menunjukkan perubahan konfigurasi dukungan politik.

Ia menyebut Appi sempat mendapat dukungan dari sejumlah DPD sebelum dukungan tersebut berubah menjelang pelaksanaan Musda.

Setelah IAS memperoleh diskresi dan dukungan mengarah kepadanya, IAS akhirnya menjadi calon tunggal dan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel periode 2026-2031.

Asratillah menilai kondisi tersebut membuat Golkar menghadapi situasi yang perlu diperhitungkan. Di satu sisi, kepemimpinan baru di bawah IAS membuka ruang konsolidasi organisasi.

Di sisi lain kata dia, Golkar juga perlu mempertimbangkan kekuatan elektoral tokoh-tokoh yang sudah memiliki basis politik.

“Jangan sampai Golkar justru melepaskan salah satu aktor politiknya yang memiliki modal elektoral cukup besar,” ujarnya.

Ia menilai posisi Appi saat ini berbeda dibandingkan sebelum menjabat sebagai Wali Kota Makassar. Jabatan tersebut, menurut dia, memberikan ruang bagi Appi untuk membangun pengaruh dan kekuatan politiknya sendiri.

“Pak Appi sekarang sudah bukan orang biasa dalam konteks politik lokal. Beliau sudah memiliki muatan politik yang jauh lebih besar. Apa muatannya? Beliau sekarang adalah wali kota,” jelas Asratillah.

Karena itu, Asratillah memandang keputusan Appi untuk bertahan atau berpindah partai membutuhkan kalkulasi politik yang matang. Ia juga menilai momentum politik menuju agenda 2029 masih cukup panjang.

“Untuk kondisi sekarang, saya rasa Pak Appi tidak perlu panik. Momentum politik menuju 2029 masih cukup panjang,” bebernya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) Rahmat Muhammad dalam diskusi yang sama menilai pembahasan mengenai kemungkinan Appi hengkang atau bertahan perlu melihat data dan indikator politik yang lebih konkret.

Menurut Rahmat, keputusan seorang aktor politik untuk meninggalkan atau tetap berada dalam sebuah partai tidak terlepas dari kalkulasi politik.

“Soal hengkang atau tidak, itu yang saya katakan tadi: apakah seseorang pergi untuk benar-benar tidak kembali, atau pergi tetapi masih membuka kemungkinan untuk kembali, semuanya tentu memiliki kalkulasi,” ujar Rahmat.

Ia menjelaskan bahwa posisi seorang aktor politik tidak dapat dipisahkan dari kolektivitas, ketokohan, tempat, dan momentum.

Dalam konteks tersebut, Partai Golkar menjadi salah satu ruang politik yang penting karena memiliki sejarah panjang dan pengalaman menghadapi berbagai dinamika politik.

Rahmat juga menilai perpindahan partai pada era politik saat ini memiliki konteks yang berbeda dibandingkan masa lalu.

Menurut dia, seorang tokoh yang berpindah partai dapat membawa modal politik, jaringan, serta basis dukungan yang telah dibangun sebelumnya.

“Itu bukan sekadar soal ‘loncat’ dari satu partai ke partai lain. Di dalamnya ada modal politik yang ikut dibawa,” terangnya.

Karena itu, Rahmat melihat posisi Appi sebagai wali kota memiliki arti penting dalam membaca arah politiknya ke depan.

Status tersebut memberikan modal politik yang berbeda dibandingkan ketika Appi belum menjabat sebagai kepala daerah.

Ia pun mengingatkan agar Appi tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

“Saya kira belum saatnya mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Yang lebih penting adalah membaca momentum, menghitung konsekuensi, dan melihat bagaimana posisi politik itu berkembang ke depan,” ucap Rahmat.

Diskusi tersebut pada akhirnya menempatkan masa depan politik Appi sebagai bagian dari dinamika yang masih terbuka setelah kepemimpinan baru Golkar Sulsel terbentuk.

Bagi Golkar, tantangannya adalah menjaga konsolidasi organisasi sekaligus mempertahankan hubungan dengan para aktor politik yang memiliki basis dukungan.

Sementara bagi Appi, pilihan untuk bertahan atau mengambil jalur politik lain akan berkaitan dengan kalkulasi, momentum, serta perkembangan politik menuju agenda pemilu berikutnya.

 Komentar

Berita Terbaru
Nasional21 September 2026 15:12
Pengendalian Karhutla Kalteng-Sumsel Diperkuat; 64 Armada Udara Dikerahkan
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul kondisi yang masih dinamis d...
Metro21 September 2026 15:06
Setetes Darah ASN, Sejuta Harapan untuk Warga Luwu Timur
Pedomanrakyat.com, Lutim — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Timur bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Lutim menggelar donor darah bagi Aparatur S...
Daerah21 September 2026 14:58
Pemkab Maros Raih Penghargaan Nasional Tata Kelola Wakaf Terbaik
Pedomanrakyat.com, Maros — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros kembali meraih penghargaan tingkat nasional. Kali ini, Pemkab Maros mendapat apresias...
Nasional21 September 2026 13:10
Hotspot Nasional Meningkat, Riau Nihil, Pengendalian Kalteng Diperkuat
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama d...