Kemenhut: Hotspot Turun 617 Titik, Operasi Karhutla Tetap Diperkuat

Muh Saddam
Muh Saddam

Selasa, 20 Oktober 2026 19:22

Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.
Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.

Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah meskipun jumlah hotspot secara nasional menunjukkan penurunan.

Operasi darat dan udara, verifikasi lapangan, pembasahan, serta pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan api dan bara benar-benar terkendali.

Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Senin, 19 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 487 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.

Jumlah tersebut turun 617 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 1.104 hotspot. Pada enam provinsi prioritas karhutla, jumlah hotspot juga turun dari 748 menjadi 172 titik, atau berkurang 576 titik.

Rinciannya, Sumatera Selatan 64 titik, Kalimantan Tengah 49 titik, Kalimantan Selatan 40 titik, Kalimantan Barat 12 titik, Jambi 7 titik, dan Riau tetap nihil hotspot high confidence.

Penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Namun, perkembangan di setiap daerah tidak sama. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan justru mencatat kenaikan hotspot, sehingga kewaspadaan dan operasi lapangan tetap dipertahankan.

Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.

Seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual di lapangan.

Pemadaman Lapangan Tetap Diperkuat
Di Sumatera Selatan, operasi darat dilakukan pada sejumlah lokasi di Muara Enim, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Sejumlah lokasi merupakan lahan gambut dengan tipe kebakaran bawah dan masih membutuhkan pemadaman lanjutan.

Di Ogan Komering Ilir, tim Manggala Agni bersama TNI, regu pemadam perusahaan, dan masyarakat melakukan pemadaman langsung dengan membagi sektor penanganan pada kepala dan sisi api.

Penyekatan juga dilakukan untuk memutus penjalaran. Operasi menghadapi tantangan berupa asap tebal dan angin kencang yang berubah arah.

Di Kalimantan Tengah, meskipun hotspot turun tajam menjadi 49 titik, personel tetap melakukan pemadaman di Kotawaringin Barat, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Sukamara, dan Barito Selatan.

Di beberapa lokasi api berhasil dipadamkan, sementara pada lokasi gambut lainnya masih ditemukan kebakaran permukaan dan bawah sehingga pemadaman dan pembasahan tetap dilanjutkan.

Di Kalimantan Selatan, yang mencatat peningkatan menjadi 40 hotspot, operasi antara lain dilakukan di Suaka Margasatwa Pelaihari serta sejumlah lokasi di Tanah Laut dan Banjarbaru.

Beberapa titik berhasil dikendalikan melalui pemadaman darat, termasuk pada lokasi bergambut, namun pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.

Sementara di Kalimantan Barat, yang turun menjadi 12 hotspot, operasi lapangan tetap dilakukan. Di salah satu lokasi di Ketapang, api telah berhasil dikendalikan.

Penurunan hotspot tidak serta-merta menghentikan operasi karena verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada sumber panas maupun bara yang tersisa.

Di Jambi, meskipun hotspot turun menjadi tujuh titik, Manggala Agni masih melakukan pemadaman dan groundcheck di Sarolangun, Batang Hari, serta Tanjung Jabung Timur.

Di Sarolangun, penanganan dilakukan melalui pemadaman langsung, penyekatan kepala api, pelebaran sekat bakar, dan pendinginan menggunakan peralatan mekanis serta suplai air.

Pada salah satu lokasi api berhasil dipadamkan, sementara di lokasi lainnya pemadaman masih harus dilanjutkan.

Pada lokasi bergambut di Sarolangun, tim juga melakukan pemadaman lanjutan pada titik api dan penyekatan kepala api dengan memanfaatkan kanal sebagai sumber air. Hingga sore hari, kondisi api masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Operasi Darat dan Udara Tetap Siaga
Secara nasional, pemerintah tetap menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, pemutusan kepala dan sisi api, penyekatan penjalaran, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.

Khusus pada lahan gambut, penanganan tidak berhenti ketika nyala api di permukaan sudah tidak terlihat. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan, sehingga pembasahan dan pendinginan tetap dilakukan sampai lokasi dinilai aman dari potensi penyalaan kembali.

Kualitas Udara Masih Menjadi Perhatian
Berdasarkan pantauan kondisi udara berbasis PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang.

Namun, masih terlihat sejumlah wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, dan secara lokal terdapat kategori berbahaya, terutama pada beberapa bagian Kalimantan serta sejumlah wilayah di Sumatera dan Papua.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah hotspot belum selalu langsung diikuti pemulihan kualitas udara. Asap, terutama dari kebakaran gambut, dapat bertahan dan bergerak mengikuti kondisi atmosfer meskipun jumlah hotspot telah berkurang.

Masyarakat di wilayah dengan kualitas udara memburuk diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, segera laporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.

Penurunan hotspot menjadi perkembangan yang perlu terus dijaga. Namun, pekerjaan belum selesai hanya karena jumlah titik panas berkurang.

Pengendalian terus dilakukan hingga api dan bara benar-benar padam, sumber asap berkurang, kualitas udara pulih, kawasan terlindungi, dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.

 Komentar

Berita Terbaru
Metro20 Oktober 2026 20:27
Appi Tegaskan PSEL Makassar Tunggu Arahan Pusat, Aspirasi Warga Tamalanrea Jadi Pertimbangan
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemerintah Kota Makassar menegaskan bahwa rencana pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) teta...
Metro20 Oktober 2026 18:25
Di Hadapan Praja Muda IPDN, Munafri Bagikan Strategi Pembangunan dan Pelayanan Publik Makassar
Pedomanrakyat.com, Makassar – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membagikan pengalaman kepemimpinannya dalam membangun tata kelola pemerinta...
Metro20 Oktober 2026 17:28
Pj Sekda Andi Winarno Bacakan Sejarah Singkat Sulsel di Hari Jadi ke-357 Tahun
Pedomanrakyat.com, Makassar – Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Pj Sekdaprov) Andi Winarno Eka Putra membacakan sejarah sing...
Hiburan20 Oktober 2026 17:05
Tangis Inara Rusli Pecah, Mantan Karyawan Jadi Tersangka Kasus Illegal Access
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Inara Rusli tak kuasa menahan air mata setelah mengetahui mantan karyawannya, Agung, ditetapkan sebagai tersangka d...