Legislator Senayan Hasnah Syam Sebut Stunting Ancaman Wujudkan Generasi Emas 2045

Muh Saddam
Muh Saddam

Minggu, 30 Juli 2023 22:17

Legislator Senayan Hasnah Syam Sebut Stunting Ancaman Wujudkan Generasi Emas 2045

Pedomanrakyat.com, Soppeng – Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan bersama Komisi IX DPR RI menggelar kegiatan Kampanye Percepatan Penurunan Stunting tingkat Kabupaten/Kota bertempat di Triple 8 Riverside Resort Soppeng, Minggu (30/07/23).

Hadir langsung sebagai pembicara Anggota Komisi IX DPR RI, drg. Hj. Hasnah Syam, MARS, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Shodiqin, SH, MM dan Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Soppeng, Hj. Andi Husniati, S.Sos, MM.

Dihadapan 350 orang peserta sosialisasi yang hadir, Hasnah Syam mengatakan Stunting saat ini menjadi program prioritas nasional dimana pada tahun 2024 ditargetkan angka stunting dapat diturunkan menjadi 14 persen.

“Perlu kita ketahui bersama, saat ini angka stunting nasional masih terbilang tinggi yaitu 21,6 persen, padahal organisasi kesehatan dunia WHO memberikan toleransi angka stunting tiap negara hanya 20 persen,” jelas Hasnah Syam.

Hasnah Syam mengatakan stunting merupakan kondisi gagal tumbul pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi penyakit dalam jangka cukup lama dan berulang, menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya.

“Dampak stunting tidak hanya menyebabkan anak gagal tumbuh, tetapi organ-organ tubuh dan otaknya juga tidak berkembang secara maksimal, kondisi ini menyebabkan anak jadi sulit konsentrasi dan belajar, selain itu akan mudah terkena penyakit,” ujarnya.

Ia menyampaikan Stunting menjadi ancaman kualitas generasi bangsa di masa mendatang, target pemerintah mewujudkan generasi emas 2045 sulit diwujudkan jika angka stunting masih tinggi.

“Menurunkan stunting menjadi tanggung jawab kita bersama, bagaimana mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045, generasi bebas stunting. Untuk itu kami berharap informasi yang didapatkan hari ini agar disampaikan kepada keluarga dan masyarakat disekitar, seperti apa itu stunting dan bagaimana mencegahnya” himbau Hasnah Syam

Sementara itu, Kepala BKKBN Sulsel, Shodiqin menyebutkan Komisi IX DPR RI merupakan salah satu mitra strategis BKKBN yang berperan mendukung penganggaran dan pelaksanaan program yang ada di BKKBN termasuk penanganan stunting.

Shodiqin mengatakan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting mengamanatkan BKKBN sebagai Koordinator Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia.

Di mana langkah strategis penurunan stunting dilakukan melalui pendekatan keluarga berisiko stunting lewat pencegahan lahirnya bayi stunting baru dan terjadinya stunting baru.

Shodiqin mengutarakan jika angka prevalensi stunting di Sulawesi Selatan masih tinggi, dimana data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 yaitu 27,2 turun 0,2 persen dari tahun 2021 yaitu 27,4 persen.

“Kita berharap sinergitas dan kolaborasi bersama dalam menurunkan angka Stunting di Kabupaten Soppeng bisa kita tingkatkan bersama, dengan keterlibatan pemerintah dan masyarakat dalan mencegah stunting, angka 14 persen di tahun 2024 dapat kita capai,” terang Shodiqin.

Shodiqin menyebutkan dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting, BKKBN mendorong setiap pasangan usia subur mengatur kelahhiran anak dengan dengan menggunakan alat kontrasepsi.

“BKKBN tidak melarang melahirkan tetapi bagaimana keluarga dapat mengatur kelahiran, dengan cara menggunakan alat kontrasepsi yang mana telah disiap pemerintah melalui BKKBN secara gratis,” bebernya.

BKKBN telah menyiapkan berbagai macam alat kontrasepsi yang diperuntukkan untuk masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasangan atau keluarga, ada yang metode jangka pendek dan jangka panjang.

Disebutkan ada 7 pilihan kontrasepsi yang bisa di peroleh secara gratis yaitu kondom, pil, suntik, susuk atau implant, IUD, Vasektomi dan Tubektomi.

Selain itu, Shodiqin juga menekankan untuk menghindari kehamilan berisko yaitu terlalu muda melahirkan di bawah 20 tahun, terlalu tua melahirkan diatas 35 tahun, terlalu rapat melahirkan dibawah 2 tahun, dan terlalu sering melahirkan.

“Salah satu faktor penyebab tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi adalah faktor 4 terlalu, selain itu pernikahan di usia dini juga berpotensi melahirkan anak stunting” tutup Shodiqin

Shodiqin menyebutkan untuk melakukan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting khususnya remaja sebagai catin dan ibu hamil.

Lanjutnya, BKKBN telah mengembangkan aplikasi Elsimil atau Eletronik Siap Nikah Siap Hamil dan bekerjasama dengan KUA untuk memberikan edukasi kesiapan menikah 3 bulan sebelum pernikahan.

 Komentar

Berita Terbaru
Olahraga15 Oktober 2026 16:24
KONI Makassar Tantang Cricket Tambah Emas di Porprov 2026
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pengurus Cabang Olahraga Persatuan Cricket Indonesia (PCI) Kota Makassar periode 2026-2030 resmi dilantik dalam ac...
Nasional15 Oktober 2026 15:50
Negara Tak Boleh Kalah! Kapolri Perintahkan Kapolda Buru Bandar Narkoba
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memerintahkan seluruh Kapolda memetakan kampung-kampung yang menjadi sarang pered...
Ekonomi15 Oktober 2026 15:44
Utang RI Makin Bengkak! Tembus Rp8.248 Triliun pada Agustus 2026
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$459,3 miliar atau sekitar Rp8.248 triliu...
Daerah15 Oktober 2026 15:29
Sidrap Jadi Kabupaten dengan Kemiskinan Terendah di Sulsel, Angkanya Turun Jadi 4,65 Persen
Pedomanrakyat.com, Sidrap – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mencatatkan penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Pada tahun 2...