Pedomanrakyat.com, Kotawaringin Barat – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memperkuat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah, melalui pengerahan personel gabungan, penambahan sumur bor, serta optimalisasi operasi pemadaman darat dan udara.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat terbatas penanganan karhutla di Kantor Balai TN Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (14/10/2026).
Rapat dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Barat, Pangdam, Danrem, Dandim 1014, Kapolres, perwakilan Lanud, BPBD, tenaga ahli BNPB, serta jajaran terkait.
Baca Juga :
Pertemuan difokuskan pada pemetaan sebaran api, penentuan lokasi prioritas pemadaman, dan penguatan koordinasi seluruh unsur dalam melindungi kawasan konservasi Tanjung Puting.
Menhut menyampaikan keprihatinannya atas kebakaran yang melanda Taman Nasional Tanjung Puting, salah satu kawasan konservasi penting Indonesia yang juga dikenal secara internasional sebagai habitat orangutan.
“Kita sedang merasa sedih sekali karena Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi kebanggaan Indonesia, bahkan kebanggaan internasional, mengalami musibah kebakaran,” ujar Menhut dalam konferensi pers seusai rapat.
Berdasarkan pemetaan menggunakan drone thermal, tim gabungan mengidentifikasi empat lokasi prioritas penanganan kebakaran. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah kawasan Besalat karena berdekatan dengan area pemberian pakan (feeding area) orangutan.
Di lokasi tersebut, pemerintah menyiapkan strategi pemadaman melalui penambahan sumur bor, pengerahan personel darat, serta kajian kemungkinan pembuatan sekat bakar dengan mempertimbangkan kondisi dan kedalaman gambut.
Menhut menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan bentang api di salah satu lokasi prioritas mencapai sekitar dua kilometer.
Untuk mendukung upaya pemadaman, diperkirakan diperlukan sekitar 30 sumur bor serta pengerahan sekitar 160 personel gabungan di lapangan.
“Tadi kita sepakati bahwa kita akan melakukan dua langkah. Yang pertama adalah mencegat titik api dengan memperbanyak sumur bor. Kita juga melihat kemungkinan membuat sekat bakar, termasuk mempertimbangkan kondisi kedalaman gambut. Tapi intinya, kita mencegah agar api tidak masuk ke zona inti,” tegas Menhut.
Selain Besalat, operasi pemadaman juga diprioritaskan di wilayah Teluk Pulai, Sungai Bulu Kecil dan Sungai Bulu Besar, serta kawasan Sungai Baung dan Tanjung Rengas.
Untuk lokasi yang sulit dijangkau, disiapkan penempatan personel beserta dukungan logistik selama beberapa hari agar operasi pemadaman dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa harus melakukan perjalanan keluar-masuk kawasan setiap hari.
Dari sisi operasi udara, Menhut menjelaskan bahwa dukungan enam helikopter water bombing tersedia di Kalimantan Tengah.
Namun, pemanfaatannya masih menghadapi kendala jarak pandang akibat asap tebal, termasuk di sekitar Pangkalan Bun dan Palangka Raya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah tengah menyiapkan alternatif pengoperasian helikopter melalui Bandara Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, yang dilaporkan memiliki kondisi jarak pandang lebih memungkinkan.
“Kita akan mencoba memindahkan helikopter yang ada di Kalimantan Selatan, paling tidak mungkin bisa pinjam satu terlebih dahulu. Kemudian juga dari daerah-daerah lain yang kondisinya mulai membaik. Kita coba geser ke Kuala Pembuang dan melakukan water bombing dari sana,” jelas Menhut.
Selain pengerahan helikopter, pemerintah juga menyiapkan opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan awan hujan pada 15–16 Oktober 2026.
Operasi direncanakan menggunakan alternatif penerbangan dari Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, apabila kondisi penerbangan dari wilayah Kalimantan Tengah masih terkendala asap.
Penguatan operasi darat turut melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai unsur terkait.
Pemerintah juga mendorong peningkatan keterlibatan masyarakat di 15 desa sekitar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting melalui pembentukan dan penguatan kelompok MPA yang dilengkapi dukungan peralatan pemadaman.
Menhut mengapresiasi keterlibatan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan yang telah bekerja dalam kondisi lapangan yang sulit.
Menurutnya, penanganan karhutla di kawasan gambut memerlukan strategi terpadu, kerja sama lintas pihak, dan konsistensi operasi hingga api benar-benar dapat dikendalikan.
“Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat. Tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan untuk kita lakukan, akan kita lakukan,” tegasnya.
Menanggapi harapan masyarakat agar kondisi kebakaran dan kabut asap segera membaik, Menhut menegaskan bahwa pemerintah terus mengerahkan sumber daya yang tersedia, baik melalui pemadaman darat, water bombing, maupun operasi modifikasi cuaca.
“Apa yang mampu dilakukan oleh pemerintah akan kita lakukan. Water bombing, OMC, penggerakan pasukan darat yang lebih masif, sumur bor. Insyaallah kita akan bekerja lebih keras lagi demi masyarakat,” pungkas Menhut.
Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak akan terus memperkuat operasi penanganan karhutla di TN Tanjung Puting dengan memprioritaskan keselamatan masyarakat, perlindungan habitat satwa liar, dan pencegahan meluasnya kebakaran ke zona inti kawasan konservasi.

Komentar