Redam Anomali Harga, Kementan Dorong Industri Pakan Ternak Serap Jagung Petani

Zafran Alvaro
Zafran Alvaro

Minggu, 25 April 2021 12:51

Redam Anomali Harga, Kementan Dorong Industri Pakan Ternak Serap Jagung Petani

Pedoman Rakyat, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) langsung bergerak guna menstabilkan anomali harga jagung. Saat ini mengalami kenaikan di tingkat hilir sehingga berdampak pada kenaikan harga pakan dan daging unggas.

Salah satunya yakni mendorong pelaku usaha jagung, peternak mandiri dan industri pakan ternak untuk mengakses jagung yang sedang panen di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan.

“Rata-rata harga jagung nasional dengan kadar air 15 persen pada Maret 2021 sebesar Rp4.002 dan April Rp4.333 per kilogram dan harga terendah di Bulukumba Rp3.200. Harga jagung di petani intinya masih aman, yang naik ada di hilirnya,” demikian dikatakan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi pada rapat virtual pembahasan harga jagung nasional di Bogor, Sabtu (24/4/2021).

Rapat ini bersama Kementerian Perdagangan, Badan Ketahanan Pangan, pelaku usaha jagung, industri pakan ternak, Kemenko Perekonomian dan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan kepala Dinas Pertanian se-Indonesia.

Suwandi menyebutkan saat ini hinga Juni 2021, produksi jagung melimpah karena tengah berlangsung masa panen. Luas panen jagung nasional bulan Januari 373.377 hektare, Februari 623.103, Maret 697.264, April 284.295, Mei 286.682 hektar dan Juni mencapai 324.333 hektare sehingga produksinya mencapai 14,73 juta ton.

“Luas panen ini menunjukkan produksi jagung dalam negeri melimpah. Oleh karena itu, ini saatnya pelaku usaha jagung dan industri pakan untuk segera menyerap jagung petani. Sebab dinamika harga jagung tidak terjadi di semua daerah, kita sudah petakan daerah-daerah sentra panen jagung,” ujarnya.

Lebih lanjut Suwandi menyatakan upaya yang dalam meningkatkan hasil panen menstabilkan harga jagung yakni dengan mengoptimalkan aspek hilir yakni penanganan pasca panen, yakni alat panen, dryer (pengering) dan silo.

Penyiapan aspek hilir ini tentunya tidak hanya dilakukan Kementan, namun juga dari petani jagung sendiri dan industri pakan dan peternak mandiri dengan membangun pola kemitraan.

“Selain itu yang harus dibenahi adalah sistem logistiknya karena sentra-sentra produksi tidak bersinergi dengan sentra industri pakan ternak. Sentra indusrti pakannya ada di sini, sementara yang panen kebanyakan di NTB, Sulawesi Tenggara dan di luar Jawa lainnya,” terangnya.

Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Ismail Wahab menambahkan kebutuhan jagung per bulan mencapai 1,5 juta ton. Dari produksi jagung Januari-Juni, stok jagung nasional masih aman dalam mememuhi kebutuhan tersebut.

 Komentar

Berita Terbaru
Metro11 Februari 2026 16:34
Munafri-Aliyan Kompak Hadiri Peresmian Rebound Padel
Pedomanrakyat.com, Makassar – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Makassar Munafri Aliyah Mustika Ilham meresmikan Lapa...
Ekonomi11 Februari 2026 15:25
Aliyah Mustika Ilham Terima Audiensi HPFI Sulsel, Bahas Penguatan UMKM Florist
Pedomanrakyat.com, Makassar – Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham menerima audiensi Himpunan Pengusaha Florist Indonesia (HPFI) Sulaw...
Ekonomi11 Februari 2026 15:08
Tanpa Kenaikan, Belanja ASN Maros 2026 Tetap di Kisaran Rp600 Miliar
Pedomanrakyat.com, Maros – Pemkab Maros mengalokasikan hampir Rp600 miliar untuk belanja pegawai pada 2026. Anggaran tersebut mencakup gaji dan ...
Metro11 Februari 2026 14:55
Pemprov Sulsel Kaji Pendekatan Fasilitasi Dialog Terkait Aspirasi Publik
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) tengah melakukan kajian terhadap wacana pembentukan satuan k...