Pedomanrakyat.com, Makassar – Kabar pembatalan pertandingan sepak bola dan futsal putri pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan XVIII 2026 akhirnya berubah.
Dua cabang olahraga tersebut dipastikan tetap dilanjutkan setelah Komisi E DPRD Sulsel menggelar rapat dengar pendapat bersama pihak terkait.
Kepastian itu disampaikan Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Andi Nirawati, usai rapat yang dipimpin Ketua Komisi E Andi Tenri Indah di ruang rapat komisi, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga :
Rapat tersebut dihadiri Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel, KONI Sulsel, Asprov PSSI Sulsel, serta perwakilan Aliansi Atlet Sepak Bola dan Futsal Putri Sulsel.
“Hari ini dari berbagai pihak, Dispora dan KONI menyatakan bahwa cabor futsal dan sepak bola putri dilanjutkan. Mudah-mudahan ini berjalan sesuai dengan harapan generasi bangsa kita,” kata Andi Nirawati.
Menurutnya, keputusan awal untuk mencoret kedua cabor tersebut berkaitan dengan kendala teknis, terutama keterbatasan waktu penyelenggaraan dan penggunaan lapangan.
Pertandingan sepak bola dan futsal membutuhkan waktu relatif panjang, sementara rangkaian Porprov hanya menyediakan waktu sekitar satu pekan. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kesiapan lapangan apabila pertandingan berlangsung lebih lama.
Namun, persoalan teknis tersebut tidak lagi menjadi alasan untuk membatalkan keikutsertaan atlet putri. Skema penyelenggaraan dan kebutuhan pembiayaan akan dibahas lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait.
“Untuk anggaran mungkin tadi akan diselesaikan secara internal dari berbagai pihak, KONI dan Dispora. Mungkin kabupaten/kota akan berdiskusi bagaimana menyelesaikan jika ada efek biaya yang timbul dari diikutkannya kembali cabor putri ini,” jelasnya.
Legislator fraksi Gerindra DPRD Sulsel itu juga menjelaskan soal efisiensi anggaran yang sebelumnya menjadi salah satu persoalan dalam pembahasan.
Menurutnya, efisiensi tidak semata-mata berkaitan dengan besaran biaya, tetapi juga penggunaan waktu dan fasilitas pertandingan.
Untuk sepak bola dan futsal, penggunaan lapangan efektif dilakukan pada pagi dan sore hari. Dengan jumlah peserta yang cukup banyak, durasi pertandingan otomatis menjadi lebih panjang dan berpotensi meningkatkan biaya penyelenggaraan.
Namun, persoalan tersebut dinilai masih dapat dicarikan solusi secara teknis.
“Efisiensi itu bukan semata-mata dari pembiayaan, tapi waktu. Karena untuk futsal dan sepak bola, lapangan hanya efektif digunakan pagi dan sore hari,” ujar Andi Nirawati
“Dengan jumlah peserta yang cukup besar akan berdampak pada penggunaan waktu dan meningkatnya pembiayaan. Tapi itu akan dibicarakan secara teknis sehingga efisiensi tidak berdampak pada pembatalan salah satu cabor,” lanjutnya.
Sebagai Ketua Kaukus Perempuan Parlemen, Andi Nirawati menegaskan pentingnya memberikan ruang yang setara bagi atlet perempuan untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi.
Ia berharap seluruh cabang olahraga yang diminati perempuan mendapat dukungan dan fasilitas yang memadai.
“Saya berharap seluruh olahraga yang memang diminati oleh kaum perempuan bisa diberdayakan semaksimal mungkin dan menjadi prioritas,” kata politisi Gerindra Sulsel itu.
Menurutnya, atlet perempuan harus diberikan peluang sebesar-besarnya untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
Ia menilai penguatan peran perempuan perlu dilakukan di berbagai sektor, termasuk olahraga, sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian perempuan.
“Prestasi dan kemampuan yang mereka miliki harus dikembangkan, terus diberikan fasilitas dan peluang sebesar-besarnya untuk bisa berkompetisi,” ujarnya.
Andi Nirawati menegaskan, Kaukus Perempuan Parlemen Sulsel akan memberi perhatian terhadap kesempatan atlet perempuan untuk berkembang.
“Tidak ada diskriminasi untuk kaum perempuan. Itu pasti menjadi perhatian khusus kami dari Kaukus Perempuan,” tutupnya.

Komentar