Siti Suwadah Rimang, Dosen Unismuh Makassar: Guru, Dosen, dan Masa Depan dalam Merawat Harapan di Setiap Kata

Nhico
Nhico

Selasa, 28 April 2026 10:43

Sitti Suwadah Rimang, Dosen Unismuh Makassar
Sitti Suwadah Rimang, Dosen Unismuh Makassar

Pedomanrakyat.com, Makassar – Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah cermin. Cermin yang memantulkan kembali pertanyaan mendasar: masihkah pendidikan kita menjadi ruang untuk merawat harapan, atau ia telah berubah menjadi sekadar rutinitas tanpa makna?

Menjadi guru dan dosen bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan. Panggilan yang tidak selalu datang dengan kemewahan, tetapi selalu datang dengan tanggung jawab yang besar. Sebab di tangan merekalah, arah masa depan perlahan dibentuk.

Seorang guru tidak hanya mengajarkan cara membaca dan berhitung. Ia mengajarkan bagaimana melihat dunia. Ia membantu muridnya memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi juga tentang bertumbuh. Sementara seorang dosen tidak hanya membimbing mahasiswa menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga membimbing mereka menemukan arah hidup—arah yang mungkin bahkan belum mereka sadari sebelumnya.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana ia diajarkan.

Di sebuah ruang kelas yang sederhana, seorang guru berdiri di depan papan tulis. Tangannya mungkin lelah, suaranya mungkin tak selalu lantang, tetapi di setiap kata yang ia ucapkan, ada sesuatu yang tak kasat mata—harapan. Harapan yang ia titipkan pada setiap anak didiknya, bahwa suatu hari nanti, mereka akan melangkah lebih jauh dari tempat ia berdiri hari ini.

Begitu pula di ruang-ruang kuliah, seorang dosen berbicara bukan hanya tentang teori, bukan hanya tentang konsep-konsep yang tertulis dalam buku. Ia sedang menanam benih. Benih pemikiran, benih keberanian, dan yang paling penting, benih masa depan.

Kata-kata seorang pendidik bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang. Satu kalimat bisa menguatkan seseorang untuk terus melangkah, sementara kalimat lain bisa menghentikan langkah itu selamanya.

Berapa banyak dari kita yang masih mengingat satu kalimat sederhana dari seorang guru di masa lalu—kalimat yang mungkin terdengar biasa, tetapi diam-diam mengubah cara kita memandang diri sendiri?

“Mungkin kamu bisa lebih dari ini.”

“Kamu punya potensi, jangan menyerah.”

Atau bahkan hanya, “Saya percaya kamu bisa.”

Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi daya hidupnya panjang. Ia tinggal di dalam ingatan, tumbuh dalam diam, dan suatu hari menjadi alasan seseorang untuk bangkit kembali.

Kewajiban yang Tersandra Administrasi

Di tengah tuntutan kurikulum, administrasi, dan berbagai beban sistem pendidikan, sering kali peran kemanusiaan dalam pendidikan mulai terkikis. Guru dan dosen dituntut untuk menyelesaikan target, memenuhi standar, dan mengejar capaian. Tanpa disadari, ruang untuk merawat hati mulai menyempit.

Padahal, pendidikan yang sejati tidak pernah lahir dari tekanan. Ia lahir dari hubungan. Hubungan antara pendidik dan peserta didik. Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, penghargaan, dan kepedulian.

Seorang mahasiswa mungkin lupa rumus yang diajarkan dosennya. Seorang siswa mungkin lupa materi yang pernah ia pelajari. Tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana mereka diperlakukan.

Apakah mereka pernah didengarkan?

Apakah mereka pernah dihargai?

Apakah mereka pernah merasa bahwa keberadaan mereka berarti?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar nilai di atas kertas.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak orang pintar. Ia mencetak manusia.

Di era yang serba cepat ini, tantangan pendidikan semakin kompleks. Informasi bisa diakses dalam hitungan detik. Pengetahuan tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Namun justru di sinilah peran guru dan dosen menjadi semakin penting.

Mereka bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Tetapi mereka adalah penuntun arah.

Di tengah banjir informasi, siapa yang membantu siswa dan mahasiswa membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan?

Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, siapa yang membantu mereka tetap waras dan tidak kehilangan arah?

Di tengah dunia yang sering kali bising dan penuh tuntutan, siapa yang mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia yang utuh?

Jawabannya tetap sama: guru dan dosen.

Namun untuk bisa menjalankan peran itu, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai ilmu. Ia perlu memiliki empati. Ia perlu memiliki kepekaan. Ia perlu hadir—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Sebab sering kali, yang dibutuhkan oleh seorang siswa atau mahasiswa bukanlah jawaban atas soal, tetapi seseorang yang mau mendengarkan.

Merawat harapan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia membutuhkan kesabaran. Ia membutuhkan ketulusan. Dan yang paling penting, ia membutuhkan keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk bertumbuh.

Seorang guru yang terus menyemangati muridnya, bahkan ketika murid itu sendiri telah kehilangan harapan.

Seorang dosen yang tetap membimbing mahasiswanya, bahkan ketika prosesnya lambat dan penuh tantangan.

Itulah bentuk nyata dari merawat harapan.

Menyemai Harapan dalam Keihlasan

Harapan tidak selalu tumbuh dalam kondisi ideal. Ia sering kali tumbuh di tengah keterbatasan. Di ruang kelas yang sederhana. Di tengah fasilitas yang minim. Di antara berbagai kekurangan.

Namun justru di situlah nilai sejatinya.

Sebab harapan yang dirawat dengan tulus tidak membutuhkan kesempurnaan. Ia hanya membutuhkan kehadiran.

Ada satu hal yang perlu kita sadari: masa depan tidak dibangun dalam satu hari. Ia dibentuk perlahan, melalui proses yang panjang. Dan dalam proses itu, peran guru dan dosen sering kali tidak terlihat secara langsung.

Mereka mungkin tidak menyaksikan keberhasilan murid-muridnya di masa depan. Mereka mungkin tidak tahu sejauh mana pengaruh kata-kata mereka.

Namun itu tidak membuat peran mereka menjadi kecil. Justru sebaliknya.

Seperti benih yang ditanam di dalam tanah, hasilnya mungkin tidak langsung terlihat. Tetapi suatu hari nanti, ia akan tumbuh. Ia akan menjadi sesuatu yang besar. Sesuatu yang mungkin melampaui bayangan awalnya.

Dan ketika itu terjadi, mungkin tidak semua orang akan mengingat siapa yang menanam benih itu. Tetapi benih itu tetap tumbuh. Tetap hidup. Tetap memberi manfaat.

Itulah pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen untuk kembali mengingat esensi dari semua ini. Bahwa pendidikan bukan sekadar sistem. Ia adalah proses memanusiakan manusia.

Bahwa guru dan dosen bukan sekadar pengajar. Mereka adalah penjaga harapan.

Dan bahwa setiap kata yang mereka ucapkan memiliki kekuatan.

Kekuatan untuk membangun.

Kekuatan untuk menguatkan.

Kekuatan untuk mengubah arah hidup seseorang.

Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah hal-hal besar. Bukan perubahan yang spektakuler. Tetapi hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran.

Menyapa dengan tulus.

Mendengarkan dengan penuh perhatian.

Memberi ruang untuk tumbuh.

Dan yang paling sederhana, tetapi sering kali paling bermakna: berkata dengan hati.

Karena pada akhirnya, pendidikan tidak diingat dari seberapa banyak materi yang diajarkan. Ia diingat dari bagaimana ia dirasakan.

Seorang guru yang mengajar dengan hati akan dikenang lebih lama daripada guru yang hanya mengejar target.

Seorang dosen yang peduli akan meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada dosen yang hanya menjalankan kewajiban.

Dan di tengah dunia yang terus berubah, satu hal tetap sama: manusia akan selalu membutuhkan manusia lainnya.

Maka, kepada para guru dan dosen—di mana pun berada—barangkali tidak semua usaha akan terlihat. Tidak semua pengorbanan akan dihargai. Tidak semua proses akan berjalan mudah.

Tetapi percayalah, setiap kata yang Anda ucapkan, setiap waktu yang Anda luangkan, setiap perhatian yang Anda berikan—semuanya sedang membentuk sesuatu yang besar.

Sesuatu yang bernama masa depan.

Dan masa depan itu, sedang tumbuh… perlahan, dalam diam… melalui tangan-tangan yang tak pernah lelah merawat harapan.

Karena sejatinya, menjadi pendidik bukan hanya tentang mengajar.

Tetapi tentang percaya—bahwa di setiap diri yang diajar, ada kemungkinan tak terbatas.

Dan dari keyakinan itulah, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Penulis : Siti Suwadah Rimang, Dosen Unismuh Makassar

 Komentar

Berita Terbaru
Metro28 April 2026 17:28
Gubernur Sulsel Serahkan Mobil Layanan Kesehatan untuk Warga Rongkong
Pedomanrakyat.com, Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyerahkan satu unit mobil operasional untuk Puskesmas Rongkon...
Daerah28 April 2026 16:26
Antisipasi Genangan, Bupati Pinrang Pantau Langsung Pembersihan Drainase
Pedomamrakyat.com, Pinrang – Bupati Pinrang, H. A. Irwan Hamid, S.Sos kembali turun langsung meninjau proses penanganan dan pembersihan drainase...
Daerah28 April 2026 11:08
Masuki Tahap Finishing, Bupati Luwu Timur Tinjau Progres RSUD I Lagaligo
Pedomanrakyat.com, Lutim – Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, turun langsung melakukan inspeksi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I Lagaligo, di ...
Daerah28 April 2026 09:05
HUT ke-27 Lutra, Bupati Ibas Ajak Perkuat Kolaborasi Antarwilayah
Pedomanrakyat.com, Lutim – Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menghadiri Rapat Paripurna DPRD dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-XXVII Kabupat...