Pedomanrakyat.com, Pangkep – Dari pelataran Rumah Adat Balla Lompoa di Labbakkang, ribuan warga menyemut menyambut Mappalili, ritual turun sawah yang diwariskan ratusan tahun lalu oleh raja-raja Labakkang. Tetabuhan ganrang membelah udara, bau tanah basah menyergap, sementara warga dari berbagai daerah hadir merayakan tradisi ini.
H. Lutfi Hanafi dan Muchtar Sali, anggota DPRD Pangkep, tampak menyapa warga tanpa jarak, menunjukkan kedekatan wakil rakyat dengan masyarakat. “Tradisi bukan hanya tontonan, tapi pengingat bahwa tanah, sawah, dan budaya adalah warisan yang harus dijaga bersama,” ujar Lutfi.
Ritual puncak Mappalili dimulai dari Balla Lompoa menuju Galung Kalompoang di Desa Manaku—sawah suci simbol musim tanam. Pinati Musawir memimpin rombongan adat, diapit tokoh-tokoh Karaeng dan panitia. Camat Labakkang, Bahri, menyebut perayaan tahun ini sebagai yang paling meriah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga :
Lutfi dan Muchtar menekankan pentingnya menjaga sawah dan tradisi tidak hanya lewat seremoni, tetapi melalui kebijakan nyata. “Ritual ini simbol awal musim tanam. Tugas kita memastikan panennya juga tidak gagal—baik karena hama, irigasi, maupun kebijakan yang tidak berpihak,” ujar Muchtar.
Di Galung Kalompoang, Karaeng Sialloa menancapkan simbol pusaka sebagai tanda dimulainya musim tanam. Warga bersorak, sebagian meneteskan air mata, sebagian lagi mengabadikan momen. Di tengah itu, wakil rakyat turun ke lapangan, mendengar keluhan warga tentang pupuk, irigasi, dan cuaca.
Mappalili bukan sekadar ritual. Ia menjadi panggung bagi wakil rakyat untuk hadir di setiap langkah rakyatnya, menegaskan komitmen pada sawah, budaya, dan kehidupan masyarakat Labakkang.

Komentar