Kementan

Hanjeli, Potensi Baru Pangan Lokal Indonesia, Mulai Dilirik Dikembangkan

Zafran Alvaro
Zafran Alvaro

Rabu, 01 September 2021 12:26

Hanjeli, Potensi Baru Pangan Lokal Indonesia, Mulai Dilirik Dikembangkan

Pedoman Rakyat, Jakarta– Hanjeli, salah satu tanaman pangan alternatif yang termasuk ke dalam golongan tanaman serealia yang telah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat.

Hanjeli berasal dari Asia Timur khususnya dari China dan telah banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan pangan fungsional. Hanjeli tersebar di Asia Tenggara terutama di Filipina, Myanmar, Thailand dan termasuk di Indonesia.

Hanjeli memiliki kemampuan adaptasi tumbuh yang baik dan memiliki toleransi dalam keadaan suhu rendah, minim air, tanah asam maupun basa sehingga cocok untuk dijadikan sebagai tanaman alternatif pada lahan yang kurang subur. Oleh karena itu, hanjeli memiliki potensi yang sangat besar sebagai pangan alternatif.

Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian UNPAD Tati Nurmala dalam acara Webinar Propaktani Episode ke 79 yang diselenggarakan atas kerjasama Ditjen tanaman Pangan dengan ISWI disiarkan secara langsung di Propakatani TV mengatakan, Hanjeli banyak dibudidayakan masyarakat terutama di daerah Jawa Barat sebagai tanaman selingan, yang ditanam tanpa menggunakan teknik budidaya intensif sehingga memudahkan petani.

Selain mudah dibudidayakan petani, Hanjeli juga dapat dijadikan sebagai tepung yang menjadi bahan baku pembuatan kue serta dapat diolah menjadi beras. “Hanjeli ini cocok untuk penderita diabetes karena dapat menurunkan kasar gula darah, berat badan dan kolesterol,” sebut Warid Ali Qosim, Guru Besar Fakultas Pertanian UNPAD.

Pengembangan Hanjeli tidak hanya pada budidayanya saja namun juga perlu dipikirkan dari aspek hilirnya. Dr. Nonon Saribanon mengatakan terdapat 2 cara dalam pengembangan Program Ekonomi Lokal Hanjeli. Yang pertama dengan perencanaan program yang melingkupi aspek pengkajian, penyusunan roadmap, pemetaan potensi dan inisiasi dengan stakeholders terkait. Yang kedua dengan implementasi program yakni dengan pendekatan partifipatif, penguatan kelembagaan, membangun kemitraan dan inovasi dan continual improvement.

Sementara di tempat terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan mengatakan, pengembangan hanjeli sebagai sumber pangan alternatif merupakan salah satu solusi yang bagus dalam peningkatan diversifikasi pangan lokal Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan Bapak Menteri Pertanian yang tertuang dalam Cara Bertindak ke 2 dari 5 Cara Bertindak Pembangunan Pertanian 2020 – 2024.

Pengembangan budidaya pangan lokal harus didukung karena memiliki keunggulan.”Saya tekankan pangan lokal karena pangan lokal memiliki potensi yang luar biasa. Pangan lokal jelas cita rasa dan asal usulnya, tanpa treatment. Unsurnya lebih fresh dibanding impor. Ayo kita sukai pangan lokal kita,” ucap Suwandi. Untuk diketahui, Kementan selama ini telah berupaya menjaga dan meningkatkan kualitas pangan Indonesia selain dari sisi kuantitas produksi.

 Komentar

Berita Terbaru
Metro09 Oktober 2026 22:24
Pemkab Pinrang Siapkan Nomor Darurat 112, Respons Cepat Bencana dan Kegawatdaruratan
Pedomanrakyat.com, Pinrang – Pemerintah Kabupaten Pinrang mulai mematangkan persiapan layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat (NTPD) 112 untuk memud...
Metro09 Oktober 2026 21:21
Terima Komisi VII DPR RI, Andi Sudirman Perjuangkan Dukungan untuk 3 Juta UMKM Sulsel
Pedomanrakyat.com, Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menerima kunjungan kerja dalam rangka kunjungan kerja reses Komis...
Metro09 Oktober 2026 20:24
Dari Makassar, 500+ Pemimpin Lintas Sektor Membahas Masa Depan Kepemimpinan Indonesia
Pedomanrakyat.com, Makassar – Lebih dari 500 pemimpin dan profesional dari berbagai sektor berkumpul di Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 di...
Metro09 Oktober 2026 19:27
Munafri Minta Dukungan Pusat Perkuat Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Makassar
Pedomanrakyat.com, Makassar – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan sejumlah aspirasi pembangunan Kota Makassar kepada Komisi VII ...