Pedomanrakyat.com, Makassar – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, menyampaikan pidato politik dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mulai 29 hingga 31 Januari 2026.
Dalam kesempatan itu, Ketum PSI Kaesang Pangarep, menyinggung terkait isu pelaksanan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung atau Pilkada lewat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD.
Ia menyampaikan bahwa, bangsa ini sudah memulai pemilihan kepala daerah sejak tahun 2005, artinya hampir 20 tahun ini proses demokrasi berjalan.
Baca Juga :
“Evaluasi terus dilakukan, kita harus jujur mengakui pemilihan langsung masih memiliki berbagai kekurangan. Mulai dari praktik politik, hingga persoalan ambang batas pencalonan yang awal mulanya berbasis kursi lalu diubah menjadi ambang batas perolehan suara sah baik politik,” ujar Kaesang.
Kata Kaesang, pesan utamanya jelas, bangsa ini sedang terus belajar memperbaiki sistem pemilihannya, perubahan demi perubahan dilakukan agar sistem demokrasi mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas dan berpihak kepada masyarakat Indonesia.
“Dalam konteks ini PSI berpandangan bahwa partisipasi masyarakat adalah kunci utama dalam menentukan sistem pemilu kita seperti apa ke depannya,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa, meskipun PSI saat ini belum memiliki kewenangan menentukan sikap di Senayan terkait revisi undang-undang. Namun ia menegaskan, sikap PSI akan selalu satu suara dengan rakyat Indonesia.
Olehnya itu, Rakernas PSI adalah momentum yang sangat baik, sebagai konsolidasi nasional sekaligus tindak lanjut transformasi pasca Kongres di Solo.
Menurutnya, PSI telah bertransformasi bukan hanya soal logo, tetapi juga cara pandang menjadi partai yang lebih terbuka. Partai super terbuka adalah jawaban atas tantangan zaman.
“Atas praktek politik tertutup yang menciptakan jarak antar elit dengan anggota bahkan dengan masyarakat. Dimana keputusan-keputusan seringkali hanya ditentukan oleh struktur, tanpa melibatkan kader sama sekali,” terang Kaesang.
“Melalui rakenas kita menemukan PSI sebagai rumah bersama, rumah bagi buruh, rumah bagi nelayan, rumah bagi petani, rumah bagi pekerja informal. Siapapun seluruh lapisan masyarakat kita terima,” pungkasnya.

Komentar