Pedomanrakyat.com, Makassar – Anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Golkar, Marthen Rantetondok, mengisyaratkan tak maju kembali sebagai calon legislatif pada Pemilu 2029 mendatang.
Hal itu disampaikan Marthen saat ditemui di kantor sementara DPRD Sulsel di Jalan AP Pettarani, Makassar, Senin (13/4/2026).
“Saya sementara mempertimbangkan. Kemungkinan besar kalau ada peluang, saya akan mendorong anak saya untuk maju,” ujar Marthen.
Baca Juga :
Marthen mengaku merasa tidak lagi maksimal dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, terutama dalam kegiatan reses yang menjadi salah satu tugas utama anggota dewan.
“Karena faktor umur, saya merasa tidak mampu lagi memperjuangkan rakyat secara maksimal. Saat reses, kita menampung aspirasi, tapi sering kali tidak bisa menjawab kebutuhan mereka,” katanya.
Ia menyebut anak ketiganya sebagai sosok yang dipersiapkan untuk maju pada Pemilu 2029. Anaknya diketahui telah aktif di Partai Golkar melalui Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) di tingkat pusat.
“Dia sudah lama di AMPG Jakarta dan berlatar belakang pendidikan hukum internasional,” ungkapnya.
Terkait target suara, Marthen berharap capaian elektoral anaknya dapat menyamai atau bahkan melampaui perolehan suaranya pada pemilu sebelumnya.
“Targetnya sekitar 17 ribu sampai 18 ribu suara. Mudah-mudahan bisa tercapai,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyadari bahwa keputusan pencalonan tetap bergantung pada mekanisme dan persetujuan internal partai.
“Kita dorong, tapi semua tergantung Partai Golkar. Kita tunggu saja,” tambahnya.
Soroti Persoalan Peternakan di Toraja dan Luwu Raya
Selain itu, Marthen juga menyoroti persoalan peternakan yang berdampak pada masyarakat di wilayah Toraja dan Luwu Raya, khususnya terkait kematian ternak dan keterbatasan pasokan kerbau.
Ia mengaku telah memperjuangkan hal tersebut dalam rapat bersama Komisi B DPRD Sulsel dan Dinas Peternakan.
“Saya sudah sampaikan soal banyaknya ternak yang mati di Luwu Raya dan Toraja. Mudah-mudahan bisa masuk program penanganan pada 2027,” katanya.
Menurut Marthen, ketersediaan kerbau menjadi isu penting bagi masyarakat Toraja, mengingat hewan tersebut memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi, terutama dalam upacara adat.
Namun, pasokan kerbau dari luar daerah seperti Sumatera dan Jawa masih terkendala regulasi akibat kekhawatiran penyakit hewan.
“Kerbau dari luar belum bisa masuk karena masih menunggu keputusan kementerian. Padahal kebutuhan di Toraja sangat tinggi,” jelas legislator Golkar Sulsel itu.
Ia menambahkan, kondisi tersebut bahkan berdampak pada pelaksanaan upacara adat masyarakat. “Kadang ada yang menunda prosesi adat karena kerbau belum tersedia. Ini tentu menjadi perhatian serius,” tutupnya.

Komentar