Kampung Hijau Energi LAZ Hadji Kalla Perkuat Ketahanan Iklim di Sulselbar

Muh Saddam
Muh Saddam

Minggu, 15 Februari 2026 16:36

Pelatihan komunitas Kampung Hijau Energi yang digelar di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu.
Pelatihan komunitas Kampung Hijau Energi yang digelar di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu.

Pedomanrakyat.com, Makassar – Upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim terus didorong melalui Program Kampung Hijau Energi yang digagas oleh Program Humanity and Enviroment, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla.

Dijalankan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, program ini menjadi salah satu ikhtiar berbasis komunitas dalam menjawab tantangan krisis lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Program Kampung Hijau Energi mengintegrasikan pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan dalam satu siklus berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya lokal secara efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Kampung Hijau Energi merupakan program kolaboratif yang dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene di Sulawesi Barat serta Kabupaten Maros, Pinrang, dan Kota Parepare di Sulawesi Selatan.

Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat menerapkan praktik siklus yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Tanaman organik yang dibudidayakan warga dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Selanjutnya, limbah ternak diolah menggunakan teknologi biogas untuk menghasilkan energi api biru serta pupuk organik cair. Energi biogas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan LPG.

Sementara itu, pupuk organik cair dikembalikan ke lahan pertanian untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Praktik ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya produksi bagi petani dan peternak.

Program Manager Humanity and Environment LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, menyebutkan, LAZ Hadji Kalla berkolaborasi dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau dalam program ini.

Selain memperkuat ekonomi warga, Kampung Hijau Energi berkontribusi langsung pada mitigasi perubahan iklim dengan menekan emisi metana dari limbah ternak serta mendorong praktik pertanian rendah karbon. Pendekatan sirkular ekologis berdampak sebagai kunci keberhasilan program ini.

“Ketahanan iklim berbicara tentang kapasitas suatu wilayah untuk menghadapi gangguan iklim—seperti kekeringan, banjir, kenaikan suhu, atau ketidakpastian musim yang secara nyata berdampak pada kondisi sosial dan lingkungan,” jelas Sapril.

Sementara kata dia, Kampung Hijau Energi merupakan salah satu instrumen praktis di tingkat komunitas yang secara langsung membangun kapasitas tersebut melalui pendekatan energi terbarukan, pengelolaan limbah biomassa, dan penguatan ekonomi lokal.

“Program ini membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber nilai tambah bagi petani dan peternak sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Yayasan Forum Komunitas Hijau, Hamzah, menilai Kampung Hijau Energi sebagai contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.
“Ketahanan lingkungan harus dibangun dari komunitas. Kampung Hijau Energi menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari pola pikir dan praktik sehari-hari masyarakat,” katanya.

Melalui kolaborasi multipihak, Program Kampung Hijau Energi membuktikan bahwa solusi lingkungan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Kelompok Tani Ternak, Desa Benteng Paremba, Kecamatan Lembang, Pinrang, Muhajir mengungkapkan tantangannya dalam membangun gagasan ini hingga mendapat dukungan dari LAZ Hadji Kalla yang bekerjasama dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau.

“Bagi saya, tekanan dari warga dan keluarga serta tokoh tokoh adat akibat dari minimnya informasi menjadi cermin betapa gagasan baru sering dianggap ancaman ketika lahir di ruang yang belum siap berdialog. Usulan saya dinilai mengganggu keseimbangan sosial, bahkan sempat diminta dihentikan demi meredam konflik. Di titik inilah saya menyadari, banyak ide baik di desa gugur bukan karena salah, tetapi karena berjalan sendirian. Maka saya memilih bertahan, bukan dengan melawan, melainkan dengan merajut jejaring,” jelasnya.

 Komentar

Berita Terbaru
Metro17 Juli 2026 20:30
Sekda Makassar Tegaskan Hibah KONI Sah, Rasionalkan Dasar Hukum dan Mekanismenya
Pedomanrakyat.com, Makassar – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, meluruskan berbagai informasi yang berkembang terkai...
Politik17 Juli 2026 15:34
Gubernur Andi Sudirman Umumkan Pemenang Umrah Gebyar Pendapatan Sulsel Lewat Panggilan Video
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengumumkan para pemenang Gebyar Pendapatan Sulsel 2026 periode Januari–Jun...
Daerah17 Juli 2026 14:23
Jalan Kuri Caddi Maros Mulai Dikerjakan, Anggaran Capai Rp1,18 Miliar
Pedomanrakyat.com, Maros – Pemerintah Kabupaten Maros mulai merealisasikan program peningkatan infrastruktur jalan pada 2026. Salah satunya mela...
Daerah17 Juli 2026 14:04
Pemkab Luwu Timur Tingkatkan Budaya Siaga Bencana Lewat Sosialisasi KIE
Pedomanrakyat.com, Lutim – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat upaya peningkatan kes...