Kemenhut dan Komisi IV Perkuat Penyuluh Kehutanan dan Generasi Pelestari Hutan

Nhico
Nhico

Senin, 19 Oktober 2026 09:36

Kemenhut dan Komisi IV Perkuat Penyuluh Kehutanan dan Generasi Pelestari Hutan

Pedomanrakyat.com, Padang – Kementerian Kehutanan bersama Komisi IV DPR RI mendorong penguatan peran penyuluh kehutanan dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Tahun 2026 se-Sumatera Barat yang diselenggarakan melalui Pusat Penyuluhan Kehutanan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM), di The ZHM Premiere Hotel, Padang, Kamis (15/10).

Mengusung tema “Membangun Sinergi Penyuluh Kehutanan dan Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan”, kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman, Plt. Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan Indra Exploitasia, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, jajaran UPT Kemenhut, penyuluh kehutanan, serta Generasi Pelestari Hutan (Genries). Pertemuan menjadi ruang dialog untuk menyerap aspirasi, membangun kolaborasi, dan merumuskan langkah penguatan pengelolaan hutan di tingkat tapak.

Alex Indra Lukman menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan kunci dalam menjaga kelestarian hutan. Karena itu, jumlah tenaga penyuluh, kapasitas, dan dukungan operasionalnya perlu terus diperkuat. “Kalau masyarakat yang harus dilibatkan dalam menjaga hutan, maka penyuluh kehutanan harus diperbanyak. Logika dasar yang harus dibangun seperti itu,” tegas Alex. Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, sehingga upaya pencegahan perlu melibatkan masyarakat secara aktif.

Menurut Alex, penguatan penyuluh harus disertai dukungan sarana dan prasarana, termasuk kendaraan operasional untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Efisiensi anggaran juga perlu mempertimbangkan kebutuhan petugas di lapangan. “Kita sepakat terkait efisiensi anggaran, tetapi perlu dilihat kembali bagian mana yang harus diefisienkan. Jangan sampai pahlawan ekologis justru terabaikan,” ujarnya. Alex turut mendorong pembahasan khusus mengenai penyuluhan kehutanan bersama Komisi IV DPR RI.

Sementara itu, Indra Exploitasia menyampaikan bahwa penyuluh kehutanan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Kehutanan (SIMLUH) per 12 Oktober 2026, secara nasional tercatat 10.623 penyuluh kehutanan, terdiri atas 2.710 penyuluh ASN, 6.029 penyuluh swadaya masyarakat, 883 penyuluh swasta, dan 1.001 penyuluh PPPK. Di Sumatera Barat terdapat 150 penyuluh kehutanan, dengan 564 Kelompok Tani Hutan (KTH) di tingkat provinsi dan 14 kelompok binaan UPT.

Indra juga menekankan pentingnya peningkatan Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) masyarakat binaan. Di Sumatera Barat, NTE tercatat sekitar Rp5 miliar dan masih berpotensi ditingkatkan melalui penguatan kelembagaan KTH, hilirisasi produk, peningkatan kualitas dan kemasan, pengembangan merek, serta perluasan akses pasar. Pengembangan Wanawiyata Widyakarya sebagai pusat pembelajaran usaha kehutanan dan pembentukan koperasi tani hutan sesuai kesiapan kelompok juga didorong agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai tambah.

Dalam sesi dialog, sejumlah penyuluh mengungkapkan tantangan pendampingan masyarakat, antara lain keterbatasan tenaga, sarana transportasi, serta pemasaran produk KTH. Penyuluh dari Taman Nasional Siberut, misalnya, menyampaikan kesulitan menjangkau wilayah kepulauan akibat kondisi gelombang laut dan keterbatasan transportasi, serta tantangan pemasaran madu, keripik, dan suvenir. Penyuluh juga menyampaikan kekhawatiran sebagian kelompok binaan bahwa legalitas usaha dapat memengaruhi status penerimaan bantuan sosial. Menanggapi hal tersebut, Alex menegaskan, “Yang namanya proses, kita juga harus menjamin bahwa masyarakat tetap menerima haknya.”

Selain penyuluh, kegiatan ini melibatkan Genries yang sebelumnya mengikuti program Forest Youthverse dan Forest Youthpreneurship. Kehadiran mereka merupakan bagian dari upaya BP2SDM melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) untuk mempertemukan kreativitas generasi muda dengan pengalaman penyuluh di tingkat tapak. Indra menekankan bahwa Genries dapat berperan sebagai penggerak inovasi, edukasi lingkungan, dan penyebar informasi positif mengenai pelestarian hutan. Ia juga mendorong penguatan Saka Wanabakti sebagai wadah pendidikan dan keterampilan kehutanan bagi generasi muda.

Dalam dialog, Rahmi, salah satu perwakilan Genries, mempertanyakan tindak lanjut sekitar 60 ide inovasi yang dihasilkan melalui Forest Youthverse agar dapat diimplementasikan secara nyata. Andrean menyampaikan ketertarikan generasi muda untuk berkontribusi lebih jauh, termasuk menjadi penyuluh kehutanan. Sementara itu, Syerlina memperkenalkan gagasan aplikasi pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular yang memiliki potensi nilai ekonomi. Berbagai gagasan tersebut membuka peluang kerja sama dengan penyuluh, terutama dalam pengembangan produk KTH, pemasaran digital, dan edukasi masyarakat.

Indra berharap kolaborasi penyuluh kehutanan dan Genries tidak berhenti pada forum dialog, tetapi berkembang menjadi jejaring pendampingan dan inovasi di lapangan. “Genries juga dapat menjadi corong informasi dan influencer pelestarian hutan, sehingga praktik-praktik baik pengelolaan hutan dapat disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” demikian pesan Indra dalam arahannya.

Menutup kegiatan, Alex menyampaikan apresiasi kepada penyuluh kehutanan dan generasi muda yang terus menunjukkan komitmen menjaga hutan. “Kalian punya semangat, kami punya kewenangan. Jadi, tolong semangat mereka kita jawab dengan kewenangan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan kehutanan ke depannya,” tegasnya. Ia berharap berbagai aspirasi terkait kebutuhan tenaga penyuluh, dukungan operasional, penguatan KTH, dan inovasi generasi muda dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Komisi IV DPR RI, serta para pemangku kepentingan.

Melalui Temu Teknis ini, Kementerian Kehutanan menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, penyuluh kehutanan, masyarakat, dan generasi muda dalam membangun pengelolaan hutan berkelanjutan. Penguatan kapasitas penyuluh, peningkatan nilai ekonomi KTH, serta pengembangan inovasi generasi muda diharapkan menjadi langkah nyata untuk mewujudkan hutan lestari dan masyarakat sejahtera. (*)

 Komentar

Berita Terbaru
Metro19 Oktober 2026 16:25
Permudah Izin Bangunan, Pemkot Makassar Padukan Layanan Digital dan Pengawasan
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemerintah Kota Makassar, terus mengoptimalkan pelayanan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) melalui digitalisasi pe...
Ekonomi19 Oktober 2026 15:25
Bapenda Maros Bidik Rp277 Miliar, PBB Pergudangan 88 Jadi Sasaran!
Pedomanrakyat.com, Maros – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menargetkan penerimaan pajak daerah Rp277 miliar...
Metro19 Oktober 2026 15:15
Anggota Komisi E DPRD Sulsel Soroti Kesadaran K3 Pekerja Proyek Revitalisasi SMAN 5 Makassar
Pedomanrakyat.com, Makassar – Anggota Komisi E DPRD Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai NasDem, H. Mahmud, melakukan kunjungan lapangan dalam ra...
Nasional19 Oktober 2026 14:38
Kemenhut Bersama BMKG dan TNI Terapkan OMC Dry Ice untuk Kurangi Asap Karhutla di Sumsel
Pedomanrakyat.com, Palembang-Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI)...