Kementan Elaborasi Potensi dan Tantangan Petani Milenial

Nhico
Nhico

Kamis, 12 Agustus 2021 17:27

Kementan Elaborasi Potensi dan Tantangan Petani Milenial

Pedoman Rakyat, Jakarta – Masa depan pertanian Indonesia di tangan generasi milenial, sehingga regenerasi petani adalah keniscayaan yang tidak bisa lagi ditunda. Karena itu, Kementan terus mendorong lahirnya lebih banyak petani milenial.

Potensi dan tantangan petani milenial Indonesia mengemuka pada Webinar Nasional bertajuk Pertanian dan Petani Milenial Menuju Era Society 5.0. dalam rangka Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar (Faperta Unhas) pada Kamis (12/8/2021).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyerukan bahwa regenerasi petani adalah keniscayaan. Pasalnya saat ini pertanian Indonesia lebih banyak diisi petani berusia 45 hingga 54 tahun, bahkan ada yang berusia di atas 60 tahun.

“Masa depan pertanian Indonesia di tangan anak-anak muda, generasi milenial. Mereka yang nantinya akan memberi perubahan serta mengangkat pertanian ke arah lebih baik. Kementan terus mengupayakan lahirnya lebih banyak petani milenial,” kata Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi selaku keynote speaker webinar mewakili Mentan Syahrul mengelaborasi sejumlah data dan fakta mengapa regenerasi petani harus segera dilakukan.

“Secara usia, saat ini pertanian Indonesia banyak diisi petani dengan rentang usia 45 hingga 54 tahun. Mereka segera memasuki masa kolotnial. Tidak sedikit berusia 55 hingga 64 tahun bahkan lebih 65 tahun. Sebagian besar hanya mengenyam pendidikan di tingkat SD,” kata Dedi Nursyamsi.

Menurutnya, apabila regenerasi petani tidak dipersiapkan sejak dini, Indonesia akan kekurangan petani. Kementan berupaya menggenjot lahirnya petani milenial melalui sejumlah program melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi seperti PWMP, YESS, KostraTani, Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA).

“Tantangannya, jumlah rumah tangga petani 10 tahun terakhir berkurang 5 juta, 61% petani saat ini berusia di atas 45 tahun atau mulai memasuki usia tidak produktif, sementara banyak anak muda masih menilai pertanian itu kumuh, miskin, tidak keren,” kata Dedi Nursyamsi.

Menyadari tantangan dan peluang tersebut, katanya lagi, Kementan mendorong potensi pada generasi milenial, untuk meneruskan pembangunan pertanian.

“Bukan cuma itu, kemajuan teknologi 4.0 menuntut SDM yang bisa bersaing, era 4.0 adalah eranya generasi milenial yang dituntut inovatif, kreatif, ulet dan mampu memanfaatkan ketersediaan lahan,” kata Dedi.

Guna mengantisipasi hal itu, Kementan menggelar sejumlah kegiatan seperti bimbingan teknis (Bimtek) petani milenial di Kabupaten Jombang, Milenial Smart Farming di Kabupaten Bandung, juga fasilitasi kemitraan petani milenial dengan korporasi dan banyak lagi.

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah19 April 2026 22:40
TP PKK Sidrap Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis, Ratusan Warga Rasakan Manfaat Nyata
Pedomanrakyat.com, Sidrap – Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali menunjukkan perannya sebagai penggerak pemberdayaan masya...
Daerah19 April 2026 21:24
Semarak HUT ke-23 Luwu Timur: Pemkab Siapkan Festival, Olahraga hingga Konser Musik
Pedomanrakyat.com, Lutim – Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, memimpin langsung rapat persiapan Peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Luwu Timur y...
Metro19 April 2026 20:22
Fokus Kebersihan, Kecamatan Manggala Sasar Titik Rawan Hingga Perbatasan Gowa
Pedomanrakyat.com, Makassar – Pemerintah Kota Makassar, Kecamatan Manggala terus mengintensifkan upaya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bag...
Metro19 April 2026 19:30
Sekda Sulsel Hadiri Halalbihalal Kemawa, Perkuat Sinergi Bangun Wajo
Pedomanrakyat.com, Makassar – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menghadiri Halalbihalal Pengurus Pusat Kesatuan Masyara...