Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa paradigma pemulihan lingkungan saat ini tidak boleh lagi hanya berfokus pada kegiatan seremonial menanam pohon.
Lebih dari itu, program rehabilitasi harus menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan kepedulian, memperkuat gotong royong, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut), Rohmat Marzuki, pada acara puncak Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (Desertification and Drought Day/DDD) 2026 yang berlangsung secara hibrida di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga :
“Inilah semangat yang ingin terus kita bangun, bahwa pemulihan lahan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, memperkuat gotong royong, dan memastikan bahwa manfaat pemulihan lingkungan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Sebab pada akhirnya, lahan yang sehat akan menghadirkan lingkungan yang sehat, ekonomi yang kuat, dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang,” tegasnya.
Sebagai bukti nyata komitmen global, melalui keanggotaan di UNCCD, Indonesia berada di jalur yang tepat dalam mengejar target nasional Land Degradation Neutrality (LDN) untuk memulihkan 12,3 juta hektare lahan rusak hingga tahun 2040.
Kemenhut menunjukkan kinerja positif dengan berhasil merehabilitasi lebih dari 2 juta hektare lahan terdegradasi hingga tahun 2025 melalui kolaborasi multipihak.
Kemenhut juga bergerak cepat memetakan “Zona Merah” mitigasi bencana pasca-badai siklon dan banjir longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kemenhut memprioritaskan rehabilitasi vegetatif dan sipil teknis di hulu-hulu sungai yang dekat dengan pemukiman warga guna meminimalkan risiko bencana, serta memperkuat sistem early warning demi target zero accident dan zero victim.
Selain itu, menghadapi tantangan El Nino 2026 dan potensi kemarau panjang pada 2027, Kemenhut telah menyusun strategi mitigasi dengan memprioritaskan ketersediaan embung, rehabilitasi sekitar mata air, waduk, serta penerapan praktik pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning).
Guna mempercepat pemulihan 6,6 juta hektare lahan kritis di dalam kawasan hutan dan 5,7 juta hektare di luar kawasan hutan, Kemenhut mengadopsi pendekatan modern dengan mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan penggunaan drone untuk tabur benih dari udara (aerial seeding).
Langkah progresif ini selaras dengan Program Gerakan Indonesia Asri (AMAN: Sehat, Resik, dan Indah) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Kemenhut mengimplementasikannya lewat penguatan Perhutanan Sosial dengan skema agroforestri, silvopasture, dan silvofishery.
Melalui skema ini, masyarakat diberikan akses legal untuk mengelola hutan secara lestari, sehingga mereka mendapatkan keuntungan ekonomi sekaligus menjadi penjaga terbaik bagi kelestarian hutan itu sendiri.
Kemenhut juga secara aktif memberikan ruang bagi inovasi sains, seperti penggunaan mikoriza untuk reklamasi lahan bekas tambang, serta mendukung penuh inisiatif hijau masyarakat seperti gerakan wakaf pohon dan sedekah pohon.
Acara puncak peringatan DDD 2026 yang mengusung tema “Rangelands: Recognize, Respect, Restore” ini diisi dengan talk show interaktif yang memadukan perumusan kebijakan lintas sektor dan berbagi kisah sukses dari para local champion (pegiat lingkungan lokal).
Sebagai penutup aksi nyata yang inklusif, Kemenhut membagikan bibit pohon gratis kepada seluruh peserta untuk dibawa pulang dan ditanam di lingkungan masing-masing.

Komentar