Pedoman Rakyat, Makassar – Jembatan penghubung antara Desa Salujambu dan Desa Lawewe di Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Sulsel, ramai dibicarakan. Bila pada umumnya jembatan warga seenaknya melintasi, jembatan ini lebih awal harus dibayar.
Jembatan berbayar di Sulsel itu memang dibangun oleh warga setempat. Namun, ada tarif yang dikenakan kepada warga yang ingin menggunakan jembatan penghubung tersebut.
Warga di salah satu desa tersebut, yang enggan disebutkan namanya, mengungkap awal mula pembangunan jembatan berbayar tersebut. Pembangunan jembatan berbayar tersebut dilakukan karena warga Desa Salujambu dan Lawewe harus menyeberangi sungai. Solusinya kala itu harus ada jembatan.
“Dulu pakai perahu atau rakit, sementara penjaga rakit tidak di situ berjaga 24 jam. Akhirnya ada seseorang yang biasa dipanggil Pak Bakra berinisiatif menawarkan untuk membangun jembatan dengan uang pribadi, dan di setujui oleh warga Desa,” jelas pria berakronim LW, dikutip dari Detik.
“Jembatan dikenakan biaya penyeberangan. Hasilnya, sebagian untuk biaya perawatan jembatan rutin tiap 3 bulan atau 5 bulan. Jembatan diperbaiki terkadang dengan biaya besar karena kerusakan berat,” LW menambahkan.
Keberadaan jembatan berbayar ini pun viral di media sosial dan sampai ke Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani. Bupati Indah ikut mengomentari hal ini lantaran awalnya keberadaan jembatan berbayar tersebut disangka berada di wilayah Luwu Utara.
“Jembatan Lawewe menghubungkan dua kabupaten, masuk dalam kewenangan provinsi,” terang Indah.
Lebih lanjut Indah mengungkapkan, pembangunan jembatan di lokasi jembatan berbayar merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel). Pemkab Lutra sudah mengajukan desain pembangunan jembatan kepada Pemprov Sulsel, dan anggarannya sudah disetujui untuk segera dibangun.

Komentar