Pedomanrakyat.com, Bantaeng – Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan, Mardiana Rusli, membuka sekaligus memberikan arahan strategis dalam Kegiatan Tatap Muka Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Bantaeng, Selasa (2/6/2026).
Dalam forum tersebut, ia membedah berbagai problem teknis kepemiluan serta menggembleng kapasitas para kader pengawas partisipatif di daerah.
Saat menjelaskan pentingnya pengawasan partisipatif, Mardiana mencontohkan adanya fenomena di mana masyarakat keberatan karena identitasnya tiba-tiba tercantum secara sepihak dalam data keanggotaan partai politik di Sistem Informasi Partai Politik (Sipol).
Baca Juga :
Kondisi tersebut dinilai merugikan karena berpotensi kuat menghambat keikutsertaan warga negara yang ingin mendaftarkan diri sebagai jajaran penyelenggara pemilu adhoc.
Ia menegaskan bahwa kerawanan administrasi seperti inilah yang wajib dipahami secara jeli oleh seluruh peserta P2P.
“Fungsi peserta P2P adalah mengetahui hal-hal yang sangat teknis yang dapat merugikan pihak lain, kemudian melaporkannya kepada Bawaslu,” tegas Mardiana.
Memasuki pembahasan terkait krusialnya tahapan pemutakhiran data pemilih, ia mengingatkan peserta untuk mengantisipasi berbagai masalah klasik yang kerap berulang di lapangan, seperti munculnya pemilih ganda, data pemilih yang tidak diperbarui, hingga temuan data anomali.
Rentetan persoalan data tersebut menjadi perhatian serius karena rawan memicu sengketa hingga berujung pada Pemungutan Suara Ulang (PSU).
“Sebenarnya kita hadir untuk mencerahkan masyarakat agar peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terjadi karena akan berdampak pada pelanggaran administrasi, pemungutan suara ulang di TPS, bahkan pelanggaran pidana,” urainya.
Ia kemudian merefleksikan kasus penyalahgunaan identitas pemilih yang pernah terjadi di Kabupaten Wajo hingga mengakibatkan pelaksanaan pemungutan suara ulang.
Berangkat dari evaluasi kasus tersebut, Mardiana menginstruksikan jajaran kader pengawas untuk mengedepankan aspek pencegahan secara masif sebelum pelanggaran terjadi di wilayah masing-masing.
“Kalau peristiwa ini terjadi, maka kita hadir untuk melakukan pencegahan,” cetus Mardiana.
Selanjutnya, dalam pemaparan materi terkait pengawasan dana kampanye, ia mengingatkan peserta bahwa dimensi pengawasan pemilu cakupannya sangat luas.
Pengawasan tidak boleh hanya berfokus pada penindakan praktik politik uang semata, melainkan wajib mencakup berbagai kepatuhan terhadap aspek teknis lainnya yang telah diatur oleh regulasi.
“Kita tidak harus terjebak dengan persoalan politik uang semata, tetapi banyak hal teknis yang harus diawasi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap regulasi dan tiap tahapan kepemiluan tidak muncul secara instan, melainkan harus terus dibangun dan diasah melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan di bawah bimbingan lembaga pengawas.
“Pengetahuan yang spesifik itu harus dilatih oleh Bawaslu dan harus dikuatkan oleh Bawaslu,” pinta Mardiana.
Menyinggung keterbatasan jumlah personel terstruktur Bawaslu yang harus mengawasi wilayah geografis yang luas, ia mengajak seluruh peserta P2P untuk memperkuat barisan pengawasan.
Strategi pengawasan kini didorong melalui pendekatan humanis yang lebih dekat dan membaur dengan lingkungan masyarakat.
“Sekarang kita membalikkan keadaan, mengedukasi dengan senyum,” tuturnya.
Mardiana juga memotivasi kader agar memanfaatkan forum P2P ini secara maksimal sebagai ruang belajar dan latihan intensif.
Penguasaan materi kepemiluan sejak dini dinilai menjadi modal penting bagi generasi muda jika kelak ingin mendaftarkan diri menjadi bagian dari penyelenggara pemilu di masa depan.
“Kalau pengetahuan dari sekarang sudah mulai bagus, maka kita akan mendapatkan produk Bawaslu yang militan, mumpuni, dan cerdas,” kata Mardiana.
Menjelang akhir pemaparan materi, ia mengapresiasi jalannya forum yang berlangsung aktif dan interaktif. Diskusi dua arah tersebut dinilai telah berhasil memetakan berbagai potensi persoalan di tingkat lokal sekaligus menghasilkan rujukan solusi konkret yang dapat ditempuh bersama.
“Kita sudah mengidentifikasi bahkan mengarah pada peta jalan tentang apa yang akan kita lalui bersama dalam keluar dari masalah ini,” tutup Mardiana.

Komentar