Pedomanrakyat.com, Makassar – Ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan Sulawesi Selatan.
Olehnya itu, pemerintah daerah mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, hingga mitra internasional untuk mencari solusi pertanian yang lebih adaptif.
Hal itu mengemuka dalam Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan Simpul Pangan Nusantara yang digelar di UNHAS Hotel and Convention, Makassar, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga :
Konferensi yang diselenggarakan ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance, bersama Bappelitbangda Sulsel dan Universitas Hasanuddin itu menghadirkan 43 makalah dan 19 poster ilmiah.
Berbagai topik dibahas, mulai dari pengelolaan kebun pekarangan rumah tangga, pertanian berkelanjutan, tata kelola daerah aliran sungai, hingga kebijakan pangan di tingkat provinsi.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Sulsel, M. Ishaq Iskandar, mengatakan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi multipihak, termasuk dengan akademisi dan peneliti.
Menurutnya, kontribusi para peneliti penting untuk memperkuat pengetahuan dan inovasi dalam menghadapi tantangan pangan, terlebih di tengah kondisi kering dan ancaman El Nino.
“Untuk pertanian, untuk ketahanan pangan itu memang membutuhkan kolaborasi dengan multipihak. Termasuk dengan para peneliti, para ilmuwan yang tentu akan menambah ilmu tentang bagaimana supaya ketahanan pangan kita semakin baik,” kata Ishaq.
Ia mengatakan Pemprov Sulsel juga terus menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat ketahanan pangan, di antaranya melalui proyek strategis irigasi multiyears, pembangunan sumur bor, pompanisasi, hingga penyediaan bibit varietas unggul.
Ishaq juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan. Menurutnya, Sulsel tidak hanya memiliki potensi pada komoditas padi dan jagung, tetapi juga pangan lokal seperti sagu, ubi, dan talas.
“Sulsel ini kan terkenal dengan lumbung pangan nasional, dan saya kira kita akan terus mendiversifikasi itu, bukan hanya padi, jagung, tapi ada juga sagu yang bisa dikembangkan, ada ubi, talas, dan seterusnya,” ujarnya.
Dukungan terhadap penguatan ketahanan pangan juga datang dari Pemerintah Kanada. Kepala Kerja Sama Pembangunan Kanada, Global Affairs Canada, Alice Birnbaum, mengatakan Kanada memberikan dukungan melalui pengetahuan dan penelitian untuk membantu memperkuat ketahanan pangan.
“Pemerintah Kanada mendukung dalam banyak hal, dalam hal ketahanan pangan, dan dalam hal ketahanan pangan dengan membawa pengetahuan-pengetahuan dan penelitian-penelitian yang dari Kanada,” kata Alice.
Menurutnya, pangan menjadi salah satu fokus penting karena berkaitan langsung dengan ketahanan masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kanada memberikan dukungan khususnya untuk penguatan ketahanan pangan di Sulawesi Selatan.
Dekan Fakultas Pertanian Unhas, Prof. Rismaneswati, menambahkan bahwa tantangan utama bukan terletak pada keterbatasan sumber daya alam. Sulsel, kata dia, memiliki kondisi tanah dan iklim yang mendukung pengembangan beragam komoditas.
Namun, pola pengembangan pertanian perlu diarahkan agar tidak hanya bergantung pada satu komoditas atau sistem monokultur.
“Bukan hanya monoculture, tetapi di dalam pengembangan komoditi-komoditi tersebut ada komoditi lainnya yang bersama-sama. Jadi tidak satu komoditi saja, tetapi akan dikembangkan integrated farming system,” jelasnya.
Konsep tersebut, lanjut Rismaneswati, dapat mengintegrasikan pertanian dengan peternakan, perikanan, dan kehutanan melalui pendekatan agroforestri.
Sementara itu, Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, mengatakan program Sustainable Landscape for Climate Resilient Livelihoods yang didanai Pemerintah Kanada telah berjalan di Sulsel sejak 2021.
Program tersebut menyasar penguatan ketangguhan masyarakat menghadapi perubahan iklim, terutama kelompok rentan, dengan salah satu fokus utama pada ketahanan pangan.
“Kita bekerja dari tingkat tapak mendampingi beberapa desa untuk mengembangkan berbagai praktik pertanian cerdas iklim yang tahan terhadap perubahan pola cuaca dan mampu juga menopang kesuburan tanah dan kelangsungan produksi pertanian,” kata Andree.
Hasil dari tingkat desa kemudian didorong masuk ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Pendekatan itu juga diperkuat dengan dokumentasi pengetahuan lokal melalui WikiPangan, termasuk pengetahuan mengenai pangan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bappelitbangda Sulsel, Inyo, mengatakan hasil riset penting untuk memastikan kebijakan pembangunan benar-benar berbasis data dan bukti.
Ia menyebut implementasi program ICRAF di Kabupaten Bone menunjukkan adanya perubahan, khususnya dalam membantu petani memilih komoditas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
“Harapan kami Bone ini menjadi ikon, menjadi pilot yang bisa dicontoh oleh kabupaten yang lain,” katanya.
Di Bone, sejumlah komoditas dikembangkan, mulai dari tanaman pangan dan hortikultura hingga kakao, padi, jagung, serta pengembangan pembenihan peternakan.
Konferensi Simpul Pangan Nusantara merupakan seri kedua dari tiga rangkaian regional. Setelah Makassar, seri terakhir akan digelar di Palembang pada 28 Oktober 2026. Seri pertama sebelumnya berlangsung di Kupang pada 16 September 2026.

Komentar