Ingat! Mempercayai Hari Sial Justru Bisa Bikin Sial

Nhico
Nhico

Minggu, 17 Oktober 2021 12:00

Ingat! Mempercayai Hari Sial Justru Bisa Bikin Sial

Pedoman Rakyat – Kepercayaan terhadap adanya hari sial bisa dilacak keberadaannya sejak masa jahiliyah. Hari-hari tertentu dianggap sebagai hari yang membawa petaka atau kesialan, misalnya hari Rabu terakhir setiap bulannya.

Keyakinan ini juga tetap ada setelah Islam datang, bahkan hingga kini. Dalam interaksi sosial, tak jarang kita mendengar bahwa kesialan-kesialan itu nyata dalam arti betul-betul terjadi sesuai tanda-tanda yang ada sehingga pelakunya menyarankan untuk menghindari kesialan tersebut.

Berbagai testimoni tentang bahaya hari sial atau tanda-tanda sial itu makin membuat beberapa pihak yakin bahwa hari sial betul-betul ada.

Di lain pihak, kita temui juga orang-orang yang sama sekali acuh dan kelihatan tak terpengaruh dengan hari sial atau aneka pertanda sial.

Dari aspek aqidah, meyakini adanya hari sial cukup bermasalah sebab kesialan atau keberuntungan itu hanya bisa diberikan oleh Allah semata berdasarkan sifat irâdah atau sifat Maha Berkehendak Bebas.

Ketentuan beruntung atau sialnya seseorang sudah ditulis di Lauh Mahfudz sejak alam belum tercipta. Sama sekali tak ada hubungannya dengan hari atau momen tertentu.

Sebab itu, Syekh as-Suhaili, sebagaimana dinukil dalam Kasyf al-Khafâ’ menjelaskan:

وقال المناوي نقلًا عن السهيلي: نحوسته على من تشاءم وتطير، بأن كانت عادته التطير وترك الاقتداء بالنبي -صلى الله عليه وسلم- في تركه، وهذه صفة من قل توكله، فذلك الذي تضر نحوسته في تصرفه فيه ثم قال المناوي: والحاصل أن توقي يوم الأربعاء على وجه الطيرة وظن اعتقاد المنجمين حرام شديد التحريم؛ إذ الأيام كلها لله تعالى لا تضر ولا تنفع بذاتها وبدون ذلك لا ضير ولا محذور، ومن تطير حاقت به نحوسته، ومن أيقن بأنه لا يضر ولا ينفع إلا الله لم يؤثر فيه شيء من ذلك

“Imam al-Munawi berkata dengan menukil dari as-Suhaili: Kenahasan/kesialannya hanya bagi orang yang meyakini bahwa hal itu membawa sial (tasya’um) dan bagi orang yang meyakini tanda-tanda kesialan (tathayyur) berupa kebiasaannya untuk meyakini adanya kesialan melalui tanda-tanda dan meninggalkan ikut Nabi yang meninggalkan keyakinan seperti itu. Ini adalah sifat orang yang sedikit tawakalnya, maka orang itulah yang tertimpa kesialannya ketika melakukan sesuatu di hari itu.

Kemudian Imam al-Munawi berkata: Kesimpulannya, bahwa orang yang menjaga diri di hari Rabu dengan alasan thiyarah (menjadikannya sebagai tanda kesialan) dan meyakini aqidah ahli nujum adalah tindakan yang sangat haram.

Sebab, seluruh hari adalah milik Allah Ta’ala, tak bisa memberikan celaka atau manfaat secara independen dan tanpa hal itu maka tak ada kecelakaan atau pun larangan.

Siapa yang meyakini adanya tanda-tanda sial (tathayyur), maka kesialan akan mengepungnya. Siapa yang meyakini bahwa tak ada yang dapat memberi kecelakaan atau manfaat kecuali Allah, maka semua hal itu tak berpengaruh baginya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, Juz I, halaman 19-20)

Jadi, menurut Imam pakar hadits terkemuka, al-Munawi, hari sial itu pada dasarnya tak ada. Adanya anggapan bahkan hari tertentu atau kejadian tertentu adalah tanda akan terjadinya kesialan justru akan membuat orang yang meyakininya tertimpa kesialan. Adapun orang yang yakin bahwa hal seperti itu sama sekali tak berpengaruh, maka tak ada sama sekali hari sial atau hal-hal pembawa sial baginya.

Dengan kata lain, yang menerima efek kesialan hanya mereka yang percaya tathayyur saja. Ini menjelaskan kenapa masyarakat perkotaan yang kebanyakan tak mengenal konsep seperti ini menjalani hidupnya dengan normal tanpa terpengaruh hari sial, sedangkan di kalangan masyarakat pedesaan yang masih lekat dengan kepercayaan seperti ini justru banyak ditemukan testimoni kesialan akibat melakukan pantangan di hari sial.

Dari sudut pandang agama, hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam hadis qudsi bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya tentang Dia. Bila seorang hamba meyakini bahwa Allah akan memberinya kecelakaan atau hal negatif, maka boleh jadi Allah akan menuruti pikiran pesimis itu.

Sebaliknya bila seorang hamba yakin bahwa Allah akan memberinya kesuksesan dan keselamatan, maka besar kemungkinan Allah akan menuruti harapan positif itu. Wallahu a’lam.

Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember

 Komentar

Berita Terbaru
Uncategorized15 Oktober 2026 15:14
Hotspot Nasional 372 Titik, Kemenhut Perkuat Penanganan Lapangan dan Perlindungan TN Tanjung Puting
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan ...
Nasional15 Oktober 2026 15:03
Puting Beliung Membara Tak Patahkan Semangat Manggala Agni Kemenhut
Pedomanrakyat.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan punya Manggala Agni Kemenhut sebagai brigade khusus atau satuan tugas tingkat nasional di baw...
Metro15 Oktober 2026 14:43
Kabut Asap Makin Pekat, Wali Kota Parepare Instruksikan Siswa TK hingga SMP Belajar Daring demi Kesehatan
Pedomanrakyat.com, Parepare – Pemerintah Kota Parepare memberlakukan pembelajaran daring selama dua hari bagi siswa TK hingga SMP menyusul kondisi k...
Ekonomi15 Oktober 2026 14:13
Makassar Siapkan Penampilan Terbaik di Sulsel Expo dan Culinary HUT ke-357 Sulsel
Pedomanrakyat.com, Makassar — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mematangkan berbagai persiapan untuk menyukseskan gelaran Sulsel Expo dan Culinary d...