Pedomanrakyat.com, Bandung – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mendorong Indonesia memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing di tingkat global.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada inovasi negara lain, tetapi harus mampu menciptakan teknologi yang berdampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat menghadiri forum ilmiah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, yang mengangkat tema “Advancing Pharma and Food Innovation for a Healthier and Sustainable Indonesia”, dengan perspektif “Global Challenges Need Broad-View Scientific Leadership.”
Baca Juga :
Forum yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis Unpad tersebut diikuti ribuan peserta secara langsung maupun daring. Taruna hadir didampingi Staf Khusus Kepala BPOM RI, Wachyudi Muchsin, serta jajaran pejabat BPOM.
Dalam pemaparannya, Taruna menekankan pentingnya kepemimpinan ilmiah yang mampu menjawab tantangan global, mulai dari ancaman penyakit baru, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi dan ketergantungan terhadap produk farmasi dari luar negeri.
Ia menegaskan, kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya menghasilkan capaian akademik atau publikasi ilmiah. Riset dan inovasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian bangsa.
Salah satu gagasan yang ditekankan Taruna adalah filosofi kepemimpinan ilmiah yang menjulang, membumi, dan mengakar.
Menjulang berarti ilmuwan Indonesia harus memiliki visi global, menguasai perkembangan sains mutakhir, dan berani bersaing di panggung internasional.
Membumi berarti hasil penelitian harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui ketersediaan obat yang aman dan bermutu, pangan berkualitas, serta pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Sementara itu, mengakar berarti kemajuan teknologi tetap berlandaskan nilai kemanusiaan, integritas, kearifan lokal, dan kepentingan nasional.
Filosofi tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi asing, tetapi juga berkembang sebagai negara yang mampu menghasilkan inovasi sendiri.
Di sektor kesehatan, Taruna menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), bioteknologi, pengobatan presisi (precision medicine), serta terapi berbasis sel dan gen. Perkembangan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri farmasi sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat global.
Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan penguatan riset, pengembangan teknologi, dan kemampuan industri nasional. Tanpa langkah tersebut, Indonesia berisiko terus bergantung pada produk dan inovasi dari negara lain.
Tantangan serupa juga dihadapi sektor pangan. Penguatan inovasi dibutuhkan untuk menjamin keamanan pangan, meningkatkan kualitas gizi, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta menghadapi dampak perubahan iklim.
Sebagai pimpinan BPOM, Taruna juga menekankan pentingnya regulasi berbasis sains yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Sistem pengawasan obat dan makanan, menurut arah pemaparannya, perlu mampu mengimbangi kemajuan inovasi tanpa mengabaikan aspek keamanan, khasiat, dan mutu produk.
Perguruan tinggi turut memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menghasilkan penelitian yang dapat dikembangkan menjadi produk dan teknologi bernilai tambah.
Untuk itu, kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau Academia, Business, and Government (ABG) perlu diperkuat guna mempercepat hilirisasi riset, terutama di sektor farmasi dan pangan.
Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dalam industri dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Forum ilmiah di Unpad ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran mengenai pentingnya kepemimpinan berbasis sains dalam menghadapi persaingan global.
Bagi Indonesia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kemajuan akademik, tetapi juga menyangkut kemandirian industri, ketahanan pangan, kualitas sumber daya manusia, dan posisi bangsa dalam percaturan dunia.
Pesan Taruna menegaskan bahwa ilmuwan Indonesia perlu berani berpikir mendunia, menghadirkan manfaat bagi rakyat, dan tetap berpijak pada nilai serta kepentingan bangsa.
Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi dari pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi yang diperhitungkan di tingkat global.

Komentar