Wamenhut Rohmat Marzuki Ajak Rimbawan Muda Berprinsip “BAIK” untuk Jaga Hutan Indonesia

Muh Saddam
Muh Saddam

Kamis, 06 Agustus 2026 20:35

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki saat hadir sebagai narasumber dalam sesi sharing alumni bertajuk "Rimbawan Kolaboratif, Transformasi Hutan Lestari", di UGM Yogyakarta.
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki saat hadir sebagai narasumber dalam sesi sharing alumni bertajuk "Rimbawan Kolaboratif, Transformasi Hutan Lestari", di UGM Yogyakarta.

Pedomanrakyat.com, Yogyakarta – Kementerian Kehutanan terus mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan dan transformasi pengelolaan hutan nasional.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki saat hadir sebagai narasumber dalam sesi sharing alumni bertajuk “Rimbawan Kolaboratif, Transformasi Hutan Lestari”, pada rangkaian kegiatan Pionir Pelestari (program pengenalan kampus) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (6/8/2026).

Di hadapan 314 mahasiswa baru yang datang dari 20 provinsi di Indonesia, Wamenhut, yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999, mengenang kembali perjalanannya.

Berasal dari keluarga sederhana di Magelang, ia menceritakan perjuangannya menembus UGM hingga kini diberi amanah menjadi Wakil Menteri Kehutanan.

“Setiap kali dipanggil ke Fakultas Kehutanan, saya merasa bangga dan terhormat. Ingatan saya flashback ke tahun 1999, saat saya duduk seperti kalian mengikuti orientasi. Hutan Indonesia membutuhkan kontribusi nyata dan semangat rimbawan muda,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wamenhut menyampaikan pesan kunci agar seluruh rimbawan muda memegang teguh akronim “BAIK” sebagai landasan dalam menempuh studi dan mengabdi untuk bangsa.

Prinsip ini dimulai dari aspek Belajar, di mana mahasiswa diminta memanfaatkannya untuk menyerap ilmu kehutanan dan memahami kondisi riil lapangan secara maksimal.

Mahasiswa juga dituntut untuk Adaptif terhadap perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga penguasaan bahasa asing agar mampu bersaing secara global.

Selain itu, jiwa Inovatif harus terus dipacu guna melahirkan kreativitas baru, sebagaimana UGM yang telah membuktikan berbagai terobosan seperti perhutanan sosial, aerial seeding menggunakan drone, hingga rehabilitasi lahan kritis Wanagama.

Rangkaian prinsip tersebut disempurnakan oleh semangat Kolaborasi, mengingat pengelolaan hutan tidak dapat dilakukan sendiri melainkan butuh sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta demi terwujudnya hutan lestari serta masyarakat sejahtera.

Semangat kelestarian ini turut tecermin dari motivasi mendalam para mahasiswa baru yang memilih Fakultas Kehutanan UGM. Yudhis Irawan, mahasiswa baru asal Karawang, Jawa Barat, menceritakan keputusannya mendalami ilmu kehutanan dipicu oleh keprihatinannya melihat kerusakan alam di sekitar Pegunungan Sanggabuana.

“Saya melihat aktivitas yang merusak lingkungan, dan dari situ saya tergerak untuk menjadi seorang konservasionis demi melindungi hutan kita,” ungkap Yudhis.

Hal senada disampaikan Nur Fadila Rahma, mahasiswa asal Kalimantan Timur yang terdorong masuk Fakultas Kehutanan atas dukungan keluarga setelah menyaksikan kawasan hutan di daerahnya menghadapi tantangan akibat aktivitas tambang.

“Keluarga menyarankan masuk kehutanan agar kelak bisa kembali ke daerah untuk melindungi dan memulihkan hutan,” tuturnya.

Langkah para rimbawan muda ini mendapat apresiasi tinggi dari pimpinan universitas dan fakultas. Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia (mega biodiversity).

“Anda adalah orang-orang terpilih. Indonesia adalah salah satu paru-paru dunia, dan kami menaruh harapan besar pada kalian untuk menyelamatkan lingkungan serta menjaga stabilitas iklim dunia,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menyampaikan bahwa memilih Fakultas Kehutanan berarti memilih jalan pengabdian untuk menjaga salah satu penopang utama kehidupan.

“Hutan tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi juga menjaga tata air, keanekaragaman hayati, iklim, pangan, hingga kesehatan masyarakat. Bangsa ini membutuhkan rimbawan muda yang berintegritas, kompeten, peduli, serta mampu berkolaborasi,” ujarnya.

Melalui pembekalan ini, Kementerian Kehutanan berharap lahir generasi rimbawan baru yang berdaya saing, berintegritas, serta siap menjadi penggerak utama dalam mewujudkan tata kelola hutan Indonesia yang lestari dan menyejahterakan masyarakat.

 Komentar

Berita Terbaru
Metro06 Agustus 2026 23:30
Hadapi Kemarau Panjang, Appi Minta PDAM Makassar Jaga Pelayanan, hingga Integritas Pegawai
Pedomanrakyat.com, Makassar – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meminta jajaran direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Mak...
Nasional06 Agustus 2026 22:42
Kemenhut Himpun Masukan untuk Penyempurnaan Peta Arahan Pemanfaatan Hutan Tahun 2026
Pedomanrakyat.com, Bali – Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) terus memperkuat tata kelola pemanfa...
Metro06 Agustus 2026 22:22
Pekan Ibu Menyusui Dunia 2026, TP PKK Makassar Edukasi 300 Ibu Hamil dan Kader PKK tentang ASI Eksklusif
Pedomanrakyat.com, Makassar – Tim Penggerak PKK Kota Makassar turut menyemarakkan peringatan Pekan Ibu Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) Tah...
Daerah06 Agustus 2026 21:41
Di Era Bupati Syaharuddin Alrif, 300 Petani Sidrap Dilatih Teknologi Smart Farming Berbasis Digital
Pedomanrakyat.com, Sidrap – Sebanyak 300 petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mendapat pelatihan penggunaan teknologi pertanian berbas...